Resmi Berdiri, Asosiasi DRIN Siapkan Program Organisasi

Ketua Asosiasi Daya Riset Inovasi Nasional (DRIN) Dr Bambang Setiadi, IPU (tengah) dan jajarannya berdiskusi mempersiapkan program organisasi pada 2022 dan 2023. (Foto: DRIN)

KBRN, Jakarta: Menyusul diterbitkannya persetujuan Menteri Hukum dan HAM No. AHU-0008452.AH.01.07 Tahun 2021 tentang Pengesahan Pendirian Perkumpulan Daya Riset Inovasi Nasional (DRIN), para pengurus Asosiasi Daya Riset Inovasi Nasional (DRIN) melakukan rapat untuk mempersiapkan pelaksanaan program organisasi pada 2022 dan 2023.

Ketua Asosiasi Daya Riset Inovasi Nasional (DRIN), Dr Bambang Setiadi, IPU mengatakan, DRIN merupakan spirit para mantan anggota Dewan Riset Nasional (DRN) untuk terus melanjutkan perjuangan mengembangkan dan memperluas inovasi sebagai instrumen pembangunan ekonomi.

“DRIN menyusun program 2022 untuk meneruskan hal-hal yang sudah dilakukan DRN periode sebelumnya, berupa strategi penerapan inovasi, pengembangan ilmu inovasi dan UU Inovasi,” ujar Bambang melalui keterangan tertulis, Kamis (23/6/2022).

Ia menjelaskan, DRIN dijalankan melalui kaidah-kaidah pengelolaan suatu gerakan kekuatan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan untuk membantu pemerintah mempercepat tujuan kesejahteraan masyarakat.

“DRIN juga meyakini, berdasar fakta yang ada saat ini pertumbuhan ekonomi di dunia sangat ditentukan kekuatan inovasi sebagai modal baru setelah SDA,” lanjut Bambang yang pernah menjadi Ketua DRN selama dua periode ini.

Sudah dicanangkan oleh Pemenang Nobel 2018, bahwa kekuatan inovasi saat ini telah menjadi modal ekonomi jangka. Hal ini digambarkan secara sederhana bahwa memahami inovasi itu bukan sesuatu yang rumit: “Knowledge drives innovation, innovation drives productivity, productivity drives economic growth”.

Sebagai suatu formulasi yang diakui oleh para ahli saat ini, inovasi itu adalah invensi dikalikan dengan komersialisasi.

“Logika urutan penerapan inovasi adalah ditetapkan sebagai arah ekonomi jangka panjang, didukung oleh pendidikan yang memadai sehingga mampu melahirkan inovasi-inovasi yang berpengaruh terhadap ekonomi,” terang Bambang.

Lebih lanjut ia menuturkan bahwa semua proses inovasi itu tidak mungkin hanya dilakukan oleh pemerintah sendirian. Karena itulah, Asosiasi DRIN bisa menjadi upaya sangat sehat untuk penggalangan pemikir-pemikir terbaik dari berbagai kalangan.

Anggota DRN maupun DRD bergabung dalam Asosiasi DRIN disinergikan untuk menyumbangkan pemikiran dan pengalaman guna mendorong inovasi menjadi sumber penggerak ekonomi baru.

DRIN juga sangat dibutuhkan, paling tidak saat ini bidang-bidang yang bisa menjadi sumber inovasi yaitu energi, kesehatan masyarakat, pangan, inovasi teknologi rendah, komunikasi dan computing, ekonomi inovasi, inovasi biodiversitas.

Untuk skenario jangka panjang itu, lanjut Bambang, DRIN mematok visi berkontribusi maksimal dalam mendorong inovasi sebagai pilar pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sementara misi yang digelar adalah meningkatkan keberterimaan hasil riset inovasi anak-bangsa, turut membangun ekosistem riset dan inovasi, serta turut memberikan dukungan untuk memperjuangkan kemandirian bangsa berbasis sistem inovasi nasional yang kuat.

“Tujuannya untuk memberikan kontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi dan memberikan kontribusi konsep pemikiran untuk meningkatkan ekosistem inovasi,” jelasnya.

Menurut Bambang, salah satu program yang dirasakan mendesak adalah mempercepat inovasi menjadi kurikulum di sekolah-sekolah maupun universitas, untuk mengajari bagaimana bangsa ini sadar inovasi.

“Medan perang ekonomi sesungguhnya, sekarang dan masa depan,” tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar