Menkominfo: Semangat Harkitnas Relevan untuk Presidensi G20

Menkominfo Johnny G. Plate saat memimpin Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2022 yang berlangsung secara hibrida dari halaman Kantor Kementerian Kominfo, Jakarta Pusat, Jumat (20/5/2022). Dokumentasi Biro Humas Kementerian Kominfo.jpg

KBRN, Jakarta: Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate menekankan, aktualisasi semangat Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) masih relevan untuk kehidupan bangsa saat ini, bahkan Presidensi G20 Indonesia.

"Semangat Boedi Oetomo masih relevan untuk kita kontekstualisasikan pada kehidupan berbangsa saat ini.  Semangat cita-cita kebangkitan nasional tersebut sejalan dengan gelaran Konferensi Tingkat Tinggi G20 yang tahun ini dipimpin oleh Indonesia," ujarnya saat memimpin Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2022 yang berlangsung secara hibrida dari halaman Kantor Kementerian Kominfo, Jakarta Pusat, Jumat (20/5/2022).

Johnny pun mengajak seluruh elemen bangsa, kembali memahami esensi sejarah Kebangkitan Nasional.

"Mari sejenak kita telaah sisi historis di balik peringatan Hari Kebangkitan Nasional," ajaknya.

Menurutnua, hari lahir perkumpulan Boedi Oetomo ditetapkan Presiden Soekarno pada tanggal 20 Mei 1948, sebagai Hari Bangkitnya Nasionalisme Indonesia. Penetapan itu, merupakan upaya pemimpin bangsa dalam mencegah ancaman perpecahan antargolongan dan ideologi di tengah perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan.

"Kita telaah sisi historis di balik peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Di masa itu, terdapat ancaman perpecahan antargolongan dan ideologi di tengah perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari Belanda yang ingin kembali berkuasa. Kelahiran Boedi Oetomo mempelopori terciptanya organisasi pergerakan di masa selanjutnya seperti Indische Partij, Perhimpunan Indonesia dan Muhammadiyah," jelasnya.

Semangat persatuan yang digagas oleh Boedi Oetomo diharapkannya menjadi spirit dalam menghimpun kekuatan dan mencegah perpecahan bangsa.

"Organisasi yang menyatukan pergerakan di Indonesia dari yang bersifat kedaerahan menjadi nasional dengan tujuan akhir kemerdekaan," imbuhnya.

Dikatakannya, Boedi Oetomo yang didirikan Dr. Sutomo beserta para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) pada tahun 1908, juga memiliki tujuan mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain di dunia.

"Boedi Oetomo merupakan organisasi pertama di Indonesia yang bersifat nasional dan modern dalam sejarah pergerakan kemerdekaan. Tujuan didirikannya Boedi Oetomo yang tercetus dalam kongres pertamanya ialah untuk menjamin kehidupan sebagai bangsa yang terhormat dengan fokus pergerakan di bidang pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan," urainya.

Bahkan, tambahnya, Boedi Oetomo telah meletakkan tiga cita-cita bagi kebangkitan nasional, yakni memerdekakan cita-cita kemanusiaan, memajukan nusa dan bangsa, serta mewujudkan kehidupan bangsa yang terhormat, dan bermartabat di mata dunia.

"Kiranya, semangat Boedi Oetomo masih relevan untuk kita kontekstualisasikan pada kehidupan berbangsa saat ini," tegas Johnny.

Ditambahkannya, semangat cita-cita kebangkitan nasional tersebut, sejalan dengan gelaran Konferensi Tingkat Tinggi G20 yang tahun ini dipimpin oleh Indonesia.

"Pada Presidensi G20 tahun ini, Indonesia mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger”, dengan tujuan dapat memberikan spirit baru dalam mewujudkan tatanan dunia yang dapat memberikan kesejahteraan dan kemakmuran yang inklusif, serta menjamin keberlanjutan kehidupan di masa depan," paparnya.

Di mana, lanjutnya, pertemuan G20 yang dipimpin oleh Indonesia tahun ini mengusung tiga isu prioritas, yaitu Arsitektur Kesehatan Global yang Inklusif, Transformasi berbasis Digital dan Transisi Energi Berkelanjutan.

"Indonesia terus mendorong negara-negara anggota G20 untuk melakukan aksi-aksi nyata dan siap berkolaborasi serta menggalang kekuatan, sehingga masyarakat dunia dan kemanusiaan dapat merasakan dampak nyata dari kerja sama ini," tuturnya.

Mengakhiri sambutan, ia mengutip ucapan Dr. Sutomo yang berbunyi, "Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, selama itu kita tidak akan mau menyerah kepada siapa pun juga." Menurutnya, kata-kata semangat tersebut dapat dimaknai sebagai tonggak kebangkitan bersama bangsa Indonesia.

"Di tengah momentum penanganan nasional Covid-19 yang makin membaik dan Presidensi G20 Indonesia, hendaknya kita dapat memaknai semangat pantang menyerah Dr. Sutomo ini sebagai tonggak kebangkitan dari pandemi Covid-19 juga krisis multidimensi yang sedang melanda dunia. Dari Indonesia, Dunia Pulih Bersama. Ayo Bangkit Lebih Kuat!!" serunya.

Upacara peringatan ke-114 Harkitnas ini juga dihadiri Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Usman Kansong; Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Semuel A. Pangerapan; Sesditjen Aptika, Slamet Santoso; Direktur LAIP Ditjen Aptika, Bambang Dwi Anggono; Sekretaris Ditjen IKP, Sumiati; Direktur Pos Ditjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Ikhsan Baidirus; Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi, Imam Soewandi; serta Kepala Biro Umum, Sensilaus Dore.

Sementara, sivitas Kementerian Kominfo ada yang mengikuti upacara secara langsung dan melalui konferensi video dari rumah masing-masing. Prosesi upacara juga disiarkan langsung kanal YouTube Kemkominfo TV.

Sumber: Biro Humas Kementerian Kominfo

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar