Indonesia Pamerkan Kopi Petani Lokal di Dubai

Kopi Lokal Petani Hadir di Expo Dubai (foto: istimewa)

KBRN, Jakarta: Kopi menjadi salah satu produk Indonesia yang paling banyak dipamerkan pada acara Expo 2020 Dubai, lebih dari 50 jenis kopi digelar.

"Berbagai jenis kopi dari seluruh penjuru Nusantara yang memiliki ciri khas dapat ditemukan di area Pasar Malam Paviliun Indonesia," kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional dan Komisioner Jenderal Paviliun Indonesia Didi Sumedi dalam keterangan resminya, Kamis (27/1/2022).

Dalam hal ini Indonesia ingin menunjukkan pada dunia bahwa kopi Indonesia dihasilkan dari tangan petani lokal yang luar biasa. "Kami yakin Indonesia dapat mewujudkan mimpi menjadi produsen kopi ternama di dunia melalui Expo 2020 Dubai ini," katanya.

Sebanyak 50 jenis kopi lokal yang dipamerkan di Area Pasar Malam Paviliun Indonesia, antara lain kopi Luwak, Gayo, Kintamani, robusta Lampung, Leci Pranger Priyangan, Bajawa Flores, Toraja, dan Ijen Banyuwangi. 

Tidak hanya itu, produk kopi yang dipamerkan di Paviliun Indonesia juga memiliki cerita tentang pemberdayaan masyarakat. Salah satunya, kopi hutan Lampung yang merupakan jenis kopi robusta yang dibawa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). 

Kopi robusta Lampung yang dihasilkan dari kawasan hutan lindung Batuegi tersebut digarap langsung oleh para petani kopi lokal. Para petani kopi tersebut diberikan izin legal untuk menggarap kawasan hutan. 

Sementara itu, Provinsi Aceh juga membawa kopi Gayo dalam acara tersebut, dan mengusung pemberdayaan perempuan. Kopi Gayo tersebut dibudidaya di sekitar kawasan Taman Nasional Leuser dan memberdayakan petani lokal yang sebagian besar anggotanya adalah perempuan. 

"Produk kopi Gayo telah berhasil menembus ekspor Amerika, Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Hal itu menjadi bentuk dukungan bagi para pekerja perempuan dan generasi muda di kawasan tersebut," terangnya.

Sedangkan, Kementerian Ketenagakerjaan membawa kopi kalosi Enrekang yang merupakan jenis kopi tertua di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Kopi kalosi termasuk jenis kopi arabika yang  dibudidaya oleh para petani kopi Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. 

Tidak heran jika hingga saat ini, kopi kalosi Enrekang telah dimodifikasi menjadi kopi drip bags sebagai upaya melestarikan potensi kopi lokal.Didi juga mengatakan bahwa selain pameran produk kopi lokal, pengunjung Paviliun Indonesia juga dapat mengikuti demo seduh (brewing) kopi dengan barista yang berpengalaman. 

"Para pengunjung dapat mempelajari teknik menyeduh kopi sekaligus mendapatkan informasi mengenai ciri khas kopi Indonesia. Cara penyajiannya kopinya pun unik, yaitu menggunakan gerobak seolah-olah membawa pengunjung sedang berada di pasar malam khas Indonesia," jelas Didi.

"Ada sekitar 17 jenis kopi lokal yang dapat dicicipi saat demo brewing kopi di Paviliun Indonesia. Peringkat pertama jatuh pada kopi Luwak. Peringkat selanjutnya ditempati kopi Gayo Aceh dan kopi Kintamani Bali. Demo brewing kopi ini dibuat interaktif untuk lebih mengenalkan potensi kopi Indonesia kepada pengunjung Paviliun Indonesia," tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar