Generasi Pertama Memanfaatkan NIK, Berikutnya Sidik Jari

(RRI)

KBRN, Bali: BPJS Kesehatan diakui menjadi salah satu lembaga pertama yang memanfaatkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) dan mengembangkannya hingga menjadikan Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai data kepesertaan JKN-KIS, menurut Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Zudan Arif Fakrulloh.

"BPJS ini kerja sama dengan Dukcapil (sejak) 2013. Generasi pertama yang percaya dengan data Dukcapil," ungkap Zudan Arif Fakrulloh saat berbicara pada peresmian "Pemanfaatan NIK sebagai Nomor Identitas Peserta JKN-KIS", di Bali, Rabu (26/1/2022).

Pada tahun 2013, menurut Zudan, baru ada 10 lembaga yang bekerja sama dengan Dukcapil dengan tingkat keaktifan aksesnya belum banyak. Pada tahun 2014 bertambah sekitar 20 menjadi 30 lembaga dan pada 2015 bertambah lagi 15 menjadi 45 lembaga.

"Jadi, tujuh tahun ini kami sangat masif. Dari 45 lembaga, 30 yang aktif ketika saya di Dirjen, sekarang sudah ada lebih dari 4500 lembaga yang kerja sama. Bayangkan dari 45 ke 4528," ungkap Zudan.

Menurut Zudan pula, aplikasi generasi NIK mendatang tidak perlu bersusah payah mengingat nomor-nomornya masing-masing, karena akan dimudahkan dengan data dari sidik jari.

"Kami sudah memikirkan pelayanan publik ke depan selain berbasis NIK, datanya, juga bisa menggunakan sidik jari." 

Zudan mengatakan transformasi pelayanan publik masa depan nantinya cukup dengan membawa alat pembaca sidik jari, khususnya bagi lembaga-lembaga yang sudah siap menerapkan data dan teknologi ini. Salah satu kemudahan yang dicontohkannya adalah saat ada pasien pingsan atau orang meninggal anonim dapat seketika diketahui identitasnya hanya dari sidik jari.

Menurutnya, profil pengguna data Dukcapil saat ini mayoritas datang dari sektor perbankan dan telekomunikasi yang memanfaatkannya untuk memverifikasi data pelanggan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar