Sekolah Ditutup, P2G : Hentikan PTM 100 Persen

Sejumlah siswa mengecek suhu tubuh dan melakukan scan peduli lindungi saat akan mengikuti pembelajaran tatap muka di SMP 26 Depok, Depok, Jawa Barat, Senin (24/1/2022). Pemerintah Kota Depok mulai menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara penuh atau 100 persen mulai hari ini. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/hp.

KBRN, Jakarta: Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mencatat jumlah sekolah yang menghentikan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen terus bertambah setiap minggunya.

Bahkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menutup sementara 90 sekolah, akibat adanya temuan kasus Covid-19 selama PTM tersebut.

"P2G meyakini, sebenarnya yang tutup lebih dari 90 sekolah, sebab ada orang tua yang belum lapor ke sekolah dan Disdik," kata Kepala Bidang Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri, dalam keterangan tertulis yang diterima RRI.co.id, Rabu (26/1/2022).

Oleh karena itu, P2G meminta Dinas Kesehatan provinsi semakin gencar melakukan swab PCR dan  active case finding kepada sekolah, siswa, dan guru, untuk mendeteksi serta memitigasi kenaikan kasus covid-19, khususnya varian Omicron yang merebak belakangan ini.

Di sisi lain, Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim mengatakan, skema PTM 100 persen Jakarta yang tengah menghadapi kondisi gelombang ketiga Covid-19, secara psikologis sebenarnya cukup mengkhawatirkan bagi guru dan orang tua siswa. 

"Coba rasakan, bagaimana guru, siswa berinteraksi kayak sekolah normal, sebab 100% siswa masuk setiap hari. Sementara itu angka kasus meningkat tajam tiap hari. Ini mengganggu pikiran dan kenyamanan belajar di sekolah," ungkap Satriwan.

Menurutnya, data yang dihimpun P2G menunjukkan, ada beberapa sekolah di Jakarta sudah menghentikan PTM 100 persen sebanyak 2 kali, hanya dalam jarak waktu 2 minggu, karena berulang siswa dan gurunya positif Covid-19.

"Ada beberapa sekolah semula PTM 100 persen, lalu siswa kena Covid, PTM dihentikan 5×24 jam. Setelah itu PTM lagi, setelah beberapa hari PTM ada siswa positif lagi, terpaksa PTM dihentikan kembali. Ini kan tidak efektif. Sekolah buka tutup, buka tutup terus, ga tau sampai kapan," cetus Satriwan.

Di samping itu, P2G masih menemukan banyak pelanggaran PTM 100 persen yang terjadi, diantaranya imbauan menjaga jarak 1 meter dalam kelas yang sulit dilakukan karena ruang kelas relatif kecil ketimbang jumlah siswa.

Lalu, sirkulasi udara tidak ada atau ventilasi udara tidak dibuka karena kelas ber-AC, siswa berkerumun atau nongkrong bersama sepulang sekolah. Kemudian masih ada kantin sekolah yang buka secara diam-diam. 

"Kondisi demikian akibat lemahnya pengawasan dari Satgas Covid-19 termasuk dinas terkait. Kedisiplinan terhadap prokes harus terus digaungkan, mulai dari rumah, di jalan, angkutan umum, di sekolah, dan pulang sekolah," tambah Satriwan. 

Berdasarkan kondisi yang sudah mengkhawatirkan itu, P2G mendesak Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan termasuk kepala daerah sekitar daerah aglomerasi menghentikan skema PTM 100% demi keselamatan dan kesehatan semua warga sekolah.

"Kami memohon agar Pak Anies mengembalikan kepada skema PTM Terbatas 50 persen, dengan metode belajar blended learning,sebagian siswa belajar dari rumah, dan sebagian dari sekolah. Metode ini cukup efektif mencegah learning loss  sekaligus life loss," pungkas Satriwan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar