FOKUS: #PPKM

Hasto Wardoyo: Pola Pikir Keliru Memicu Stunting

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, menyoroti masih banyak keluarga di Indonesia yang mindset (pola pikir) nya kurang tepat dalam pemberian asupan gizi kepada anak-anak. Menurut Hasto, makanan instan atau cepat saji menjadi kegemaran bagi ibu-ibu yang tidak sempat memasak di rumahnya bahkan seorang ayah lebih mementingkan membeli rokok daripada membeli ikan atau telur untuk asupan gizi keluarga. (Foto: Dok. BKKBN)

KBRN, Jakarta: Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, menyoroti masih banyak keluarga di Indonesia yang mindset (pola pikir) nya kurang tepat dalam pemberian asupan gizi kepada anak-anak. 

Menurut Hasto, makanan instan atau cepat saji menjadi kegemaran bagi ibu-ibu yang tidak sempat memasak di rumahnya bahkan seorang ayah lebih mementingkan membeli rokok daripada membeli ikan atau telur untuk asupan gizi keluarga.

“Sebetulnya keluarga kita itu nggak miskin-miskin banget, buktinya bisa membeli rokok seharga 500 ribu perbulan misalnya, nah ini kan mindsetnya harus diubah, tidak bisa seperti itu untuk menciptakan generasi yang bebas stunting. Daripada beli rokok, mending beli telur atau ikan untuk makanan anak-anaknya atau untuk isteri yang sedang hamil,” kata Hasto saat meninjau kampung KB di Kabupaten Lebak, Banten, melalui keterangan resmi yang diterima RRI.co.id di Jakarta, Selasa (25/1/2022).

Hasto menambahkan, jika ibu hamil asupan gizinya tidak terpenuhi, akan terjadi stunting. 

Dan stunting itu, diterangkannya, keadaan anak tumbuh kembangnya tidak maksimal mulai dari fisik yang pendek (kecil dan kurus) hingga kemampuan otak yang di bawah rata-rata.

“Kalau sudah salah dalam pemberian makanan saat ibu hamil, anak yang dikandung rawan terlahir stunting. Stunting itu bahaya dan tidak dapat disembuhkan jika pasca 1.000 hari pertama kehidupan atau saat hari pertama ibu hamil hingga anak terlahir hingga berusia dua tahun tidak diberi asupan gizi yang baik. Efeknya apa, anak nanti tidak akan bisa bersaing dalam akademik dan anak ketika dewasa nanti akan rawan sakit-sakitan,” terang Hasto yang juga dokter spesialis kandungan tersebut.

Sementara, Wakil Bupati Lebak, Ade Sumardi, menjelaskan, pihaknya akan membuat rencana aksi yang diterapkan di seluruh wilayah Lebak dalam menangani persoalan gizi dan menyasar anak-anak muda yang akan menjadi orangtua, orang-orang dewasa kelompok usia subur, ibu hamil dan menyusui serta bayi, demi mencegah terjadinya stunting.

“Dimulai dari yang mau nikah kita berikan pendampingan, lalu hamil kita berikan edukasi dan saat melahirkan kita berikan pendampingan juga dengan cara penyediaan posyandu di RW setempat. Bahkan kita juga menyarankan membuat balong untuk ketersediaan sumber protein ikan bagi keluarganya kalaupun butuh modal bisa dikomunikasikan kepada pihak terkait yang ada di setiap desa,” tuturnya.

Diketahui, Lebak Banten merupakan daerah yang masih memiliki permasalahan stunting atau gizi kronis bagi anak. 

Sekitar 20 persen dari 60 ribu anak, masih mengalami stunting. 

Sedangkan Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan jajarannya untuk menurunkan angka stunting di Indonesia menjadi 14 persen pada tahun 2024 mendatang dari angka saat ini yang masih 24,4 persen. 

Presiden menunjuk BKKBN, sebagai pelaksana percepatan penurunan angka stunting nasional. 

BKKBN pun harus memastikan intervensi yang dilakukan tepat sasaran untuk menurunkan angka stunting.

BKKBN menjelaskan, ada dua jenis intervensi yang dilakukan untuk percepatan penurunan stunting yakni intervensi sensitif dan intervensi spesifik.

Intervensi spesifik berkaitan dengan penyebab langsung stunting, umumnya di sektor kesehatan. 

Intervensi ini ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan kepada ibu sebelum masa kehamilan. 

Sementara intervensi sensitif berhubungan dengan penyebab tidak langsung yang dilaksanakan lintas sektor pemerintahan. 

Sasarannya adalah masyarakat umum di lokus tertentu, dan tidak khusus untuk 1.000 HPK. 

Intervensi sensitif ini pengaruhnya cukup besar, 70 persen pengaruhnya, di antaranya adalah lingkungan yang bersih, air bersih tersedia, kemudian kemiskinan, pendidikan, itu adalah faktor-faktor yang sifatnya sensitif.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar