[Cek Fak] Gempa Banten merupakan Megathrust

Ilustrasi (foto:istimewa)

KBRN, Jakarta: Beredar sebuah informasi yang menyebutkan jika gempa yang terjadi di Banten pada Jumat (14/1/2022) lalu merupakan gempa Megathrust.

Namun setelah ditelusuri melalui wawancara Pro3RRI bersama Koordinator Data dan Informasi BMKG Bandung Rasmid, Selasa (18/1/2022) gempa tersebut bukanlah gempa Megathrust.

Ia mengatakan bahwa gempa yang terjadi di Banten dengan kekuatan magnitudo 6,7 tersebut bukanlah gempa Megathrust.

"Memang telah terjadi gempa di Selatan Banten tepatnya di daerah Pandenglang, tetapi bukan merupakan gempa Megathrust," ujar Rasmid melalui wawancara Pro3RRI.

Meskipun, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung menyebut ada potensi terjadi gempa bumi Magnituod 8,7 (M8,7) atau megathrust yang memicu tsunami di laut selatan Pulau Jawa. Namun, Rasmid menjelaskan bahwa yang dinamakan gempa Megathrust jika gempa buminya terjadi antara bidang kontak antara lempeng Eurasia dengan lempeng Indo-Australia.

"Gempa kemarin terjadi di bagian badan Eurasia, jadi bukan di bagian kontaknya memang kekuatannya lumayan terasa. Sementara untuk gempa megatrust sendiri itu terjadi di bidang batas antara lempeng Eurasia dengan lempeng Indo-Australia," jelas Rasmid.

Bahkan, Rasmid menyatakan jika gempa Megathrust terjadi, itu bisa berpotensi tsunami atau gempa lebih besar dari sebelumnya. 

"Itu yang kemungkinan bisa atau berpotensi lebih besar lagi, karena memang megatrust ini terjadi di selatan jawa dan di selat sunda itu terdapat tiga blok yang diperkirakan dan ditakutkan secara bersamaan," jelasnya. 

"Kalau ketiganya bergerak sendiri-sendiri itu tidak terlalu besar, namun yang dikhawatirkan jika ketiga lok tersebut bergerak secara bersamaan itu yang potensinya cukup besar dan menimbulkan tsunami," tutupnya. 

Maka dapat disimpulkan jika informasi adanya gempa Megathrust itu adalah hoaks atau tidak benar.

Faktanya, gempa Megathrust baru hanyalah potensi dan  Koordinator Data dan Informasi BMKG Bandung Rasmid menegaskan bahwa gempa kemarin itu bukanlah gempa Megathrust. 

Referensi:

Wawancara Pro3RRI, Selasa 18 Januari 2022  

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar