FOKUS: #PPKM

Atin Tak Ingin Prihatin

Atin adalah seorang orangtua tunggal dan penyandang tuna daksa. Sejak 2012, Atin mengendarai sepeda motor roda dua yang dimodifikasi menjadi roda tiga. Meski memiliki keterbatasan, namun ia tidak mau bermanja diri apalagi menyusahkan orang lain. (Retno Mandasari/RRI)

KBRN, Jakarta: Mengajarkan anak membaca dan menulis, adalah rutinitas yang dilakukan Atin, seorang ibu pekerja.

Kedengarannya seperti hal lumrah yang dilakukan oleh seorang ibu pada umumnya.

Namun, Atin adalah seorang orangtua tunggal dan penyandang tuna daksa.

Atin saya temui di satu kedai kopi yang mempekerjakan penyandang disabilitas, di Terowongan Kendal, atau tepat sebelah stasiun KAI Sudirman.

Atin sendiri sebenarnya terlahir normal.

Namun, sayang diusia 3,5 tahun ia dan sang ibu mengalami kecelakaan terjatuh dari kereta api.

Kaki Atin balita pun harus diamputasi bagian kanan.

Sedangkan, sang ibu dinyatakan tewas ketika mendapatkan pertolongan di rumah sakit.

“Aku dari umur 3,5 tahun. Jatuh dari kereta. Jadi, aku masih digendong ibu, ibu kedorong-dorong kereta dan jatuh berdua sama saya. Normal (lahir), semenjak kecelakaan ya harus diamputasi kakinya. Ibu saya saat itu meninggal di rumah sakit, gak tertolong (1’55’). Itu kejadiannya di stasiun gambir,” ungkap Atin yang saya temui tengah mengajarkan membaca sang anak bernama Davina, di kedai tempatnya bekerja belum lama ini.

Atin kecil yang tumbuh besar sudah terbiasa mandiri.

Bahkan, memasuki usia Sekolah Dasar, tanpa malu ia berjualan makanan selepas pulang sekolah.

Hal itupun dilakukan hingga ia remaja.

Menurut Atin, meski memiliki keterbatasan, namun ia tidak mau bermanja diri apalagi menyusahkan orang lain.

“Saya waktu SD juga pernah jualan juga. Jadi, abis pulang sekolah saya ambil makanan di tempat orang, baru saya keliling. Jadi, di depan rumah saya waktu itu masih ada perumahan baru dibuat dan apartement. Jadi, saya jualannya di depan rumah saya persis. Sampai saya jualan tas, SMA saya jualan tas dan baju. Uangnya buat jajan. Alhamdulillah bapak saya itu tukang las teralis dan anaknya lima. Ya, tahu sendirilah gimana keuangan tukang teralis dan anaknya lima pula,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Mungkin banyak orang merasa masa remaja mungkin saja menjadi masa-masa paling sulit, bagi seorang penyandang disabilitas.

Namun, hal itu justru tidak dialami oleh Atin.

Sebab, menurut Atin, rasa percaya diri harus dimiliki oleh siapapun, tidak terkecuali penyandang disabilitas.

“Gak sih, biasa aja (tidak merasa beda dengan orang fisik normal). Sama aja (perlakuan orang sekitar-red). Mereka juga tidak menganggap saya itu disabilitas. Ya kita pulang sekolah bareng-bareng, ke mall, naik angkot ya kayak gitu. Ya biasa aja mereka anggap aku tuh kayak mereka. Ga ada dikesampingkan, guru pun ga ada. Paling pelajaran olahraga dibedakan,” papar Atin.

“Kita juga harus ibaratnya berkesampingan dengan mereka, ga ada (pikiran-red) kita tuh beda ya. Kita percaya diri kalau kita itu sama dengan mereka. Kita pun bisa melakukan apapun seperti mereka yang non disabilitas,” tambahnya.

Single Parent

Sejak 2012, Atin mengendarai sepeda motor roda dua yang dimodifikasi menjadi roda tiga. (Retno Mandasari/RRI)

Atin sendiri sejak enam tahun terakhir ditinggal pergi oleh suami.

Tampak, Atin tidak bisa menyembunyikan kesedihannya ketika bercerita tentang masa lalu rumahtangganya.

“Saya sudah single parent, mohon maaf saya sudah enam tahun lebih ditinggal sama suami saya. Kita pisah. Ya, itu ujian juga. Karena itu, saya harus kuat juga untuk menafkahi anak saya,” kata perempuan kelahiran 1984 ini.

Sejak 2021 Atin bergabung dengan Kedai Difabis yang merupakan binaan pemerintah Provinsi DKI, Baznas dan Jakpreneur.

Sebelumnya, Atin pernah bekerja di perusahaan kargo pada 2006.

Meski, tidak memungkiri ia sempat merasa sedih, ketika lulus SMA.

Karena, sulitnya mendapatkan pekerja sebagai penyandang disabilitas.

“Saat itu baru lulus SMA, karena mencari pekerjaan saat itu benar-benar susah. Harus ada persyaratan sehat jasmani dan rohani. Kalau jasmani kan tubuh kita harus lengkap, tidak kurang satupun dan rohani kita sehat. Udah kesini-sini sudah paham oh ya Allah menciptakan saya seperti ini, membentuk saya seperti ini. Kalau kita ikhlas semoga jalannya baik,” ucap Atin.

Atin ingin menghapus stigma masyarakat luas terhadap para penyandang perempuan terlebih mereka yang berjenis kelamin perempuan, yang kerap dicap tidak bisa mandiri apalagi melakukan berbagai hal seperti yang dilakukan oleh para non disabilitas.

“Salah, sebenarnya jika disabilitas diberi kesempatan yang banyak pasti mereka akan sama seperti wanita yang non disabilitas. Ada disabilitas yang bisa bikin kue dan makanan, tapi kan untuk menjajakan jualannya mereka bingung harus di mana,” tegas Atin lagi.  

Pemerintah juga diharapkan membuat kebijakan yang lebih pro kepada penyandang disabilitas, terutama untuk penyediaan lapangan pekerjaan serta fasilitas umum yang ramah penyandang disabilitas.

“Bagi saya masih banyak kurangnya. Misalkan di dalam kendaraan umum, banyak tidak ada akses untuk teman-teman disabilitas, parkiran di mall-mall, di pemerintahannya sendiri pun tidak ada fasilitas parkiran untuk khusus disabilitas. Penyediaan (lapangan kerja), juga masih banyak kurangnya. Masalahnya di persyaratan tersebut usia dari 20 – 35 tahun. Sedangkan, batas umur kita lebih dari 35 atau 40 – 50 bisa ya. Sedangkan, usia 35 itu kita masih produktif, kita masih bisa melakukan apapun pekerjaan,” ucapnya.

Sejak 2012, Atin mengendarai sepeda motor roda dua yang dimodifikasi menjadi roda tiga.

Sebab kata Atin, ia tidak ingin menggantungkan diri dengan penggunaan transportasi umum yang tidak ramah bagi penyandang disabilitas.

Tidak hanya mandiri, sosok Atin yang membuat saya kagum ini, juga berbesar hati dengan menerima takdir Tuhan.

Saat ini Atin tidak lagi berperang dengan hati kecilnya.

Sebab, ia telah memiliki si kecil nan manis, putri sematang wayangnya, Davina, yang selalu ceria dan menjadi penyemangat hidupnya. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar