Tinta Emas Perjuangan Raden Mas Said

Foto Intisari .jpg

KBRN, Jakarta : Raden Mas Said lahir di Kartasura, Jawa Tengah pada 7 April 1725 atau 4 Ruwah, Jimakir 1650 Jawa atau 1725 Masehi. Raden Mas Said adalah putra sulung Amangkurat IV, saudara tiri Pakubuwono II.

Dilahirkan dari rahim seorang wanita bernama Mas Ayu Senowati. Pengasingan ayahandanya yaitu Pangeran Mangkunegara atas perintah Sunan Paku Buwono II ke Tanjung Harapan telah membuat Raden Mas Said tetap tumbuh remaja hingga dewasa namun tanpa peran dan kasih sayang dari orang tuanya.

Kehidupannya dan saudaranya dilukiskan sangat menyedihkan. Hidup terlantar serta makan dan tidur tanpa memiliki tempat yang nyaman dan kerap kali bercampur dengan para panakawan yaitu suatu tingkatan abdi dalem kerajaan yang paling rendah.

Tepat pada tahun 1757 Raden Mas Said mendirikan sebuah Kadipaten Mangkunegaran dan mendapat gelar sebagai raja pertama Kadipaten Mangkunegara dengan gelar Mangkunegara I. Raden Mas Said meninggal pada tahun 1795 tepat setelah 40 tahun memerintah Kadipaten Mangkunegaran.

Raden Mas Said dimakamkan di tempat dimana dulu beliau pernah bertapa yaitu di Desa Mangadeg, di Bukit Bangun Lereng Gunung Lawu antara Matesih dan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, 35 Km sebelah timur kota Solo.

Sebagai seorang tokoh yang dianugerahi sebagai pahlawan, Pangeran Sambernyawa tentunya mempunyai sikap-sikap yang patut diteladani. . Aksi heroik Pangeran Sambernyawa dalam melawan keserakahan dan ketidakadilan VOC menjadi bukti bahwa perlu adanya perjuangan yang berat dalam mengusir penjajah.

Hal ini menjadi sebuah gambaran bahwa nilainilai kepahlawanan seorang tokoh khususnya Pangeran Sambernyawa sangat perlu diteladani oleh siapapun. Sikap rela berkorban, berjuang membela wilayahnya, membantu rakyat kecil dan berbagai sikap yang perlu diteladani.

Nilai kepahlawan bukan hanya sekedar berani bertempur di medan pertempuran sampai darah penghabisan yang mungkin hal ini sudah tidak bisa diterapkan di masa moderen seperti sekarang. Nilai tersebut memang benar akan tetapi lebih dari itu kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.

Diantaranya adalah bagaimana seeorang mampu menanamkan sikap kritis, jujur, tanggung jawab, disiplin, kasih sayang dan ikhlas. Selain itu dalam meneladani nilai kepahlawanan juga diharapkan dapat mempunyai sifat keberanian, kesabaran dan pengorbanan baik untu keluarga, daerah asal maupun negara.

Nilai Kepahlawanan Pangeran Sambernyawa sebagai tokoh tentunya mempunyai nilai-nilai kepahlawan yang dapat diteladani oleh berbagai kalangan dari pelajar sampai masyarakat. Beberapa nilainilai kepahlawanan yang dapat diuraiakan dan diteladani dari Pangeran sambernyawa diantaranya adalah :

1. Rela Berkorban.

Pangeran Sambernyawa pada masa kecilnya harus hidup serba kekurangan tidak selayaknya para penghuni kraton. Selain itu pada masa kecilnya sudah ditinggal wafat ibunya pada usia dua tahun dan ayahnya yang dibuang oleh Belanda ke pengasingan.

Pendidikan mental yang berat ini yang membuat sosok Pangeran Sambernyawa kecil sudah mempunyai bekal yang banyak dalam mengarungi perjuangannya yang keras. Pangeran Sambernyawa selalu terlibat dan memimpin setiap pertempuran yang dihadapi.

Hal inilah yang dapat diteladani bahwa dia rela berkorban demi kepentingan orang banyak dan selalu di garda terdepan dalam pertempuran-pertempuran. Bentuk sikap rela berkorban yang dimiliki Pangeran Sambernyawa dituangkan dalam filosofi yang dia buat yang berbunyi “Tiji Tibeh” yang mempunyai kepanjangan Mati siji, Mati kabeh, Mukti siji, Mukti Kabeh.

Semboyan tersebut dapat digambarkan bahwa pentingnya arti kebersamaan dan rela berkorban dalam setiap pertempuran yang dihadapi oleh Pangeran Sambernyawa dan pasukannya.

2. Kerja Keras.

Pangeran Sambernyawa tentunya tidak lepas dari kata kerja keras selama hidup dan perjuangannya. Sejak kecil Pangeran Sambernyawa jauh dari kata kemapanan selayaknya anak keturunan bangsawan, dimana dia harus merasakan pahitnya kehidupan dimulai umur dua tahun ditinggal wafat ibunya dan umur tiga tahun ditinggalkan ayahnya yang dibuang ke tempat pengasingan oleh Belanda.

Selama perjalanan hidupnya yang dimulai sejak dia meninggalkan keraton, Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) terus bekerja keras agar dapat memimpin pasukannya untuk melawan penjajah Belanda yang telah membuang ayahnya dan menyengsarakan rakyatnya.

3. Rasa Solidaritas.

Dalam masa perjuangannya, Pangeran Sambernyawa terus menanamkan rasa kebersamaan yang tinggi pada para pengikutnya. Teladan yang menyebutkan bahwa kalau mati satu, mati semua oleh Sambernyawa ditunjukkan dengan keterlibatannya secara langsung di medan laga.

Pangeran Sambernyawa mampu memberikan contoh yang nyata tentang pentingnya rasa solidaritas antar sesama baik selama perjuangan dengan peperangan sampai dia menjadi raja di Mangkunegaran.

4. Rasa Loyalitas.

Selama masa perjuangannya, Pangeran Sambernyawa banyak bergerak dengan pasukan berjumlah sedikit tetapi memiliki daya juang dan motivasi yang kuat. Bentuk loyalitas Pangeran Sambernyawa dan pasukannya bisa dilihat dari berbagai pertempuran yang mereka lakukan. Seperti saat terjadinya Perang Kasatriyan di Ponororgo.

Oleh : Prilia Zulfatur Rohmah

Mahasiswa Magister Psikologi

Universitas Muhammadiyah Surakarta

(imr)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00