Indonesia Deklarasikan Lawan Perdagangan Ilegal Merkuri

KBRN, Jakarta: Penghapusan penggunaan merkuri menjadi salah satu fokus tujuan utama Indonesia dalam mengurangi merkuri di Tanah Air. Selain itu, Indonesia juga mendeklarasikan melawan perdagangan ilegal merkuri ketika menjadi tuan rumah dari The Fourth Meeting of the Conference of Parties (COP-4) Konvensi Minamata.

"Indonesia itu punya inisiatif untuk membuat deklarasi untuk perdagangan ilegal merkuri," kata Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3) Rosa Vivien Ratnawati dalam konferensi pers secara dari melalui akun YouTube Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang dipantau RRI.co.id, Selasa (26/10/2021). 

Selain deklarasi rencananya juga akan dibahas penambahan produk mengandung merkuri yang dilarang, usulan pengurangan bertahap penggunaan dental amalgam dan pembahasan mengenai proses produksi yang menggunakan bahan berbahaya itu.

Rencana deklarasi itu adalah bagian dari beberapa isu yang akan dibahas dalam COP-4 Konvensi Minamata. Vivien menjelaskan, nantinya akan dibahas pula evaluasi efektivitas termasuk perkembangan penyusunan pemantauan merkuri. 

Vivien mengatakan, capaian pengurangan dan penghapusan merkuri di Indonesia adalah di sektor manufaktur tepatnya di industri baterai pada 2019, yang berhasil dikurangi sebesar 190.98 kg dan 219.26 kg pada 2020. 

Sementara di industri lampu berkurang 135.70 kg pada 2019 dan 155.12 kg di tahun berikutnya. Di industri kesehatan pada 2019 telah ditarik 118.730 unit alat kesehatan yang menggunakan merkuri seperti tambal gigi amalgam, termometer dan tensimeter. Jumlah itu sepadan dengan merkuri, atau yang dikenal juga sebagai raksa, dengan berat 7.146 kg. Sedangkan pada tahun 2020, telah ditarik 72.292 unit alat kesehatan atau setara 4.731.6 kg merkuri.

Sementara sektor pertambangan emas skala kecil (PESK), pada 2019 dan 2020 masing-masing telah dihapuskan merkuri sebanyak 10.450 kg dan sektor energi telah dihapus 560 kg pada 2019 dan 710 kg pada 2020.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00