Selama Pandemi, Pesantren Kejar Ketertinggalan Dunia Digital

Istimewa

KBRN, Jakarta: Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (RMI PBNU), KH Abdul Ghofar Rozin mengatakan, ada hikmah di balik pandemi Covid-19. Salah satunya yakni pesantren menjadi terpacu untuk mengejar ketertinggalan di dunia digital.

“Di satu sisi kita mengetahui pesantren masih berusaha mengejar ketertinggalan di dunia digital. Di sisi lain kita bergembira, karena daya adaptasi yang dimiliki oleh pesantren selama 1.5 tahun ini luar biasa besar, dari yang tidak tahu apa-apa mengenai pembelajaran jarak jauh, sekarang beberapa bisa jadi driver perubahan dan transformasi digital,” katanya, ditulis Jumat (22/10/2021).

Hal itu juga disampaikan KH Abdul Ghofar Rozin saat RMI PBNU menggelar Award Kompetisi Santri 4.0 Kamis pekan ini. Acara penghargaan kompetisi bertema “Pemanfaatan Teknologi Digital Tepat Guna di Pesantren” ini dalam rangka Hari Santri 2021. Acara ini merupakan hasil kerja sama RMI dengan Amazon Web Services (AWS) untuk melakukan pelatihan dan mengadakan kompetisi berbasis teknologi.

Selama ini, AWS telah mengadakan pelatihan cloud computing dan program 100 laptop untuk pesantren. Farid, selaku perwakilan dari AWS mengungkapkan rasa bahagianya karena program ini memberikan dampak yang bermanfaat. 

“Ini bukan perkara mudah, karena selain belum ratanya infrastruktur seperti internet atau komputer, juga sebagian besar siswa kita belum memahami apa itu teknologi cloud,” ujarnya. 

Kompetisi yang diadakan merupakan usulan pengurus RMI dengan memberikan kesempatan para santri mengirimkan proposal proyek berlandaskan permasalah santri melalui teknologi. Antusias santri amat besar, hingga akhirnya terpilih 5 tim pondok pesantren (ponpes) dengan aplikasi paling menarik. 

Pemenang Kompetisi Santri 4.0 adalah Ponpes Putri Al-Badi’iyyah untuk kategori “The Most Innovative Female Santri” dan Ponpes Al-Yasini untuk kategori “The Most Product Market Need.” 

Sedangkan 3 pemenang terbaik dari seluruh peserta adalah Ponpes Al-Mubarok Sungkai dengan aplikasi Siskesakti sebagai juara pertama, Ponpes Sabilurrosyad dengan aplikasi dan program Ayo Ngabdi di posisi kedua, dan Ponpes Nuril Anwar dengan program Santri Stream sebagai juara ketiga.

Berikut profil pesantren pemenang Kompetisi Santri 4.0 beserta produk-produk unggulan mereka.

Ponpes Putri Al Badi’iyyah: Monitoring Santri

Pesantren putri Al-Badi’iyyah memenangkan kategori “The Most Innovative Female Santri” bersama aplikasi yang digunakan untuk memonitor santri. Jika santri lain menciptakan aplikasi untuk santri, mereka fokus pada penyediaan aplikasi untuk wali santri. 

“Aplikasi ini fokus pada pemberian informasi seputar akademik santri yang meliputi prestasi yang dicapai, hafalannya targetnya berapa dan kurang berapaitu dari sisi akademik. [aplikasi ini] juga memberikan informasi keuangan santri, sudah bayar atau belum. Juga informasi seputar kesehatan, kalau sakit keluhannya apa, sudah ditangani atau belum, sejuah apa,” jelas Happy, perwakilan tim Monitoring Santri.

Ponpes Al-Yasini: Pesantrenku

Fahmi sebagai wakil dari Ponpes Al-Yasini menceritakan aplikasinya yang meraih kategori “The Most Product Market Need.” Menurut Fahmi, aplikasi ini adalah super apps untuk pesantren karena menyediakan aneka fitur layanan pesantren di dalamnya setelah selama ini ia merasa pesantren tidak terpotret secara komprehensif karena santri belum memberikan solusi terhadap masalah yang ada.

Mengenai aplikasinya, Fahmi menekankan bahwa yang paling penting baginya adalah pengelolaan uang di pesantren.

"Kami sudah berintegrasi dengan bank,” jelasnya.

Aplikasi ini dapat digunakan untuk memberikan uang bekal ke anak, mengecek rapor dan kegiatan anak, pergerakan absensi, dan lain-lain. Menurutnya, wali santri senang dengan adanya aplikasi itu. 

Implementasi aplikasi ini telah dilakukan di lingkungan pesantren dan telah melayani 4.200 santri, 8.000 orangtua santri dan alumni. Selama 1.5 tahun terakhir, Fahmi dan timnya memutuskan untuk mengevaluasi produk ini terlebih dahulu. 

Ponpes Nuril Anwar: Santri Stream

Ponpes yang berlokasi di Purworejo ini masuk dalam 3 pemenang dari seluruh peserta Kompetisi Santri 4.0 sebagai urutan ketiga. Karyanya, aplikasi Santri Stream, berangkat dari problem ketika santri dan kyai hanya melakukan kegiatan mengaji antar-unit secara manual.

“Aplikasi ini untuk melakukan ngaji secara online. Pondok kami kebetulan punya cabang, dan Kyai menginginkan pengajian dari pondok induk bisa didengarkan pondok-pondok lain,” ujar Hidayat. 

'Terkait kerja sama RMI dengan AWS, untuk digarisbawahi, coding-coding AWS itu satu dari sekian banyak budaya digital yang mulai ditanamkan oleh RMI, itu yang saya syukuri. Yang penting adalah menginspirasi santri di manapun bahwa kita bisa masuk di dunia digital. Yang membuat kami pede adalah karena [aplikasi] itu dibutuhkan," lanjutnya.

Ponpes Sabilurrosyad: Ayo Ngabdi

Berbeda dengan tim lain, Ponpes Sabilurrasyod Malang menciptakan aplikasi bernama Ayo Ngabdi yang ditujukan untuk memudahkan santri dan alumni dalam melakukan pengabdian guna pemerataan pendidikan di Indonesia. Tim yang terdiri dari Sayyidati Fatimah Az-Zahro, Mahfudz Zamhari dan Muhammad Hasbi Assidiq ini menyederhanakan aplikasinya dengan berbasis pada website. 

Dengan integrasi yang tepat, dapat dikatakan bahwa Ayo Ngabdi merupakan sebuah aplikasi yang responsif dan mudah digunakan. Dalam acara penghargaan tersebut, Hasbi mengucapkan rasa terima kasih kepada AWS dan tim berkat bimbingannya.

Ponpes Al-Mubarok Sungkai: Siskesakti

Tim yang terdiri dari Ari Hidayat, M. Aminul Wahib, dan Ahmad Ariyianto ini menciptakan aplikasi bernama Siskesakti yang merupakan akronim dari Sistem Keuangan Santri dan Koperasi Berbasis Teknologi. Aplikasi yang sudah digunakan lebih dari 40 pesantren dan 12.000 santri ini memiliki fitur unggulan yakni pembayaran santri, pembelanjaan, fitur kopontren multi-cabang, dan lain-lain.

Keunggulannya, keuangan dalam sistem ini sepenuhnya dikelola pesantren secara mandiri. Apikasinya pun sederhana dan mudah digunakan. Tak jauh-jauh, ide pembuatan aplikasi ini datang dari kebiasaan santri yang boros membelanjakan uang bekal dari wali santri. 

“Banyak laporan wali santri kalau anaknya di pesantren kok malah lebih boros. Dari situ kita buat aplikasi ini. Kita coba analisis, fitur apa yang dibutuhkan. Kita integrasikan keuangan santri dan wali santri," bebernya.

Para pemenang Kompetisi Santri 4.0 berharap, program pelatihan RMI dan AWS dapat terus berlangsung, sehingga dapat terus menginspirasi dan menghadirkan kolaborasi di lingkungan pesantren. Pesantren juga harus percaya diri bisa bersaing di ranah digital dan menjadi subyek atau pemain.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00