FOKUS: #PEMBELAJARAN ERA PANDEMI

Mahasiswa Canberra Ramai-ramai Belajar Angklung

KBRN, Jakarta: Mahasiswa Defence Force School of Languages Australia di Canberra antusias mengikuti workshop budaya dan Bahasa Indonesia secara virtual dengan tajuk In-Country Training Activities yang digelar bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra. 

Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Canberra, Mukhamad Najib, mengatakan workshop sengaja dirancang untuk para mahasiswa/pelajar yang nantinya akan bertugas di Indonesia. 

“Selain belajar Bahasa Indonesia, mereka juga diperkenalkan dengan budaya Indonesia dan mempraktikkannya secara langsung. Kali ini, mereka belajar Tari Bali, mengenal dan memperagakan beragam pakaian adat Indonesia, dan belajar memainkan dua alat musik tradisional, yaitu Gamelan Bali dan Angklung,” terang Najib dalam rilis yang diterima RRI, Rabu (20/10/2021).

Lebih lanjut Najib menambahkan para peserta juga diajak mempelajari ragam atribut budaya Indonesia dari mulai tarian, pakaian adat seperti batik, makanan khas daerah, sampai alat musik dan seni bela diri silat Perisai Diri.

"Peserta juga diajak tur virtual keliling beberapa provinsi Indonesia untuk lebih dekat mengenal Indonesia sebelum mereka betul-betul menginjakkan kaki di Indonesia,” ucap Najib. 

Najib juga menyampaikan bahwa para peserta akan dikenalkan sebagian kecil dari tradisi dan budaya Indonesia.

 “Indonesia tak hanya luas wilayahnya dari Sabang sampai Merauke, tapi juga sangat kaya budaya dan tradisi. Sehingga, tidak mungkin dalam waktu yang singkat bisa dipelajari seluruhnya,” terangnya. 

Jika ingin lebih jauh belajar tentang keragaman, maka Indonesialah tempatnya kata Najib.  Pelatihan menari dan bermain Gamelan Bali dalam workshop ini dibimbing langsung oleh I Gede Eka Riadi yang merupakan seniman Indonesia asal Bali.

Sementara untuk pelatihan Angklung para peserta dibimbing langsung oleh Rubby Al Burhan, seniman asal Jawa Barat. Keduanya merupakan staf KBRI Canberra yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing.

Tentu tidak mudah melakukan pelatihan musik dan tari secara daring, terlebih lagi untuk angklung yang harus dimainkan secara bersama-sama. 

Sementara Gede Eka Riadi menilai pelatihan secara daring tidak terlalu mudah, karena perbedaan jaringan internet dari masing-masing akan menyebabkan bunyi yang beragam.

Sementara, gamelan harus dimainkan secara bersama-sama di tempat yang sama, sehingga dengan pelatihan secara daring maka menyelaraskan bunyi antar peserta menjadi tidak mudah mengingat masing-masing peserta berada di tempat yang berbeda.

 “Angklung harus dimainkan berkelompok secara bersama. Pelatihan Angklung secara daring mensyaratkan jaringan yang stabil agar bisa menghasilkan bunyi asli yang jelas. Karena jika bunyi asli dari masing-masing angklung tidak jelas, maka akan sulit untuk menyelaraskan bunyinya. Tapi, pelatihan angklung daring ini sangat menarik meski secara teknis sedikit rumit karena panitia harus mengirimkan dulu angklungnya ke masing-masing peserta dan memastikan jaringan yang digunakan berkualitas baik,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar