Beternak Lebah Menguntungkan, Tapi Jangan Sampai Dieksploitasi

Yan Bali saat memberikan workshop tentang budidaya lebah (Dok. RRI)

KBRN, Badung: Membangun bisnis melalui budidaya lebah madu menjadi salah satu opsi yang patut dicoba di masa pandemi karena selain mudah, omset yang diperoleh juga cukup menjanjikan.

Salah satu peternak lebah di Bali, I Wayan Gede Adriana atau yang lebih dikenal dengan Yan Bali, mengatakan, beternak lebah memang tidak sulit, namun yang perlu dipastikan adalah habitat dan ketersediaan pakan lebah itu sendiri.

“Kalau orang itu melakukan dengan cara yang baik dan benar, saya setuju. Kalau lebah dijadikan sebagai sumber penghasilan ya boleh-boleh saja, tapi perlakuannya harus benar. Yang pertama, lebah itu harus dipersiapkan habitatnya dulu, misalnya tiga sampai lima tahun itu untuk mempersiapkan habitatnya dulu. Karena sebagian besar wilayah di Bali baru sedikit lokasi yang benar-benar siap untuk dijadikan lokasi ternak lebah itu, jadi ketika lebah didatangkan sampai di tempat tersebut, mereka tidak kelaparan,” terang I Wayan Gede Adriana atau karib disapa Yan Bali, kepada RRI.co.id, Sabtu (18/9/2021)

Yan Bali yang mengawali aktivitasnya di dunia perlebahan sejak September 2014 lalu, merasa bahwa maraknya bisnis lebah madu yang dijalani masyarakat saat ini justru menambah kekhawatirannya akan kepunahan populasi lebah.

Menurutnya, banyak peternak lebah yang mudah tergiur dengan iklan, mengimpor koloni lebah dari seluruh penjuru Indonesia untuk mendapatkan hasil produksi madu yang melimpah tapi tidak dibarengi dengan penyediaan vegetasi atau tanaman pendukungnya.

Dan tanpa mereka sadari, lebah-lebah yang didatangkan tersebut bisa jadi membawa virus/pathogen sehingga bisa mengancam populasi lebah lokal di Bali.

“Sekarang didatangkan dari luar pulau, jarang yang dari Bali sendiri. Orang di media sosial dibilang, wah ini lebah biroi dari Sulawesi menghasilkan madu paling banyak, orang-orang akan briug, diimpor-lah lebah tersebut. Kemudian ada lebah hutan dari Kalimantan produksinya paling banyak, dimpor juga. Dari Sumatera juga demikian, dari pulau Jawa dipromosikan di media sosial juga. Semua lebah ini dari seluruh wilayah Indonesia dibawa ke Bali. Saya takutkan nanti lebah-lebah yang didatangkan tersebut akan menularkan parasite dan pathogen. Kemudian Bali akan menjadi sentra pengumpulan penyakit-penyakit lebah tersebut. Dan ini ancaman yang amat luar biasa bagi lebah kita,” imbuhnya

Ia menambahkan, jika lebah-lebah tersebut tertular penyakit, akan berdampak pada lingkungan dan kelangsungan penyerbukan tanaman.

Selain itu ia mengakui bahwa budidaya lebah apis cerana yang ditekuninya hingga saat ini tidak terfokus pada produksi madu, namun untuk manfaat Kesehatan yang didapatkan dari aroma koloni, suara lebah sebagai sound healing therapy serta sengatannya.

Ia kembali berpesan kepada peternak pemula agar sebelum memulai budidaya lebah untuk mempersiapkan habitatnya terlebih dahulu agar tidak sampai merugi dan merusak populasi dari lebah. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00