Kepala BMKG: Jadilah Pemimpin, Bukan Bos

KBRN, Jakarta: Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, seorang pemimpin harus cepat mengambil keputusan dan berani menanggung risiko. Menurutnya, hal tersebut merupakan salah satu syarat seorang pemimpin sukses.

Pernyataan tersebut disampaikan Dwikorita di hadapan ratusan mahasiswa, taruna, dan praja dalam forum “Kaderisasi Nasional V Forum Mahasiswa Kedinasan Indonesia (FMKI), Jakarta, Sabtu (31/7/2021).

Kegiatan berskala nasional yang digelar secara virtual ini diikuti kurang lebih 117 delegasi dari 45 Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) seluruh Indonesia dengan tuan rumah yakni Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG).

“Menjadi seorang pemimpin tidak hanya dituntut sekadar pintar, tapi juga percaya diri serta mampu menguatkan dan memberdayakan seluruh sumber daya yang ada. Jangan lupa, leader atau pemimpin dan bos adalah dua hal yang berbeda,” ujarnya.

Dwikorita menyebut, seorang bos hanya sekadar memerintah, menganggap anak buah sekadar bawahan, dan hanya fokus pada hasil. Tapi seorang pemimpin harus visioner, mampu memberdayakan seluruh anggota tim, menginspirasi dan memotivasi orang-orang untuk bertindak bersama demi mencapai tujuan tanpa meninggalkan proses.

“Kalau kehadiran Anda ditakuti, jangan bangga dulu. Bisa jadi ada yang salah dengan diri Anda. Jadilah pemimpin yang dihormati dan disegani oleh semua anggota tim karena sifat kepemimpinan anda yang mampu mengayomi semua orang,” tuturnya.

Menurut Dwikorita, pemimpin harus membumi, artinya mau turun atau terjun langsung agar mengetahui apa yang terjadi di lapangan dan menentukan langkah yang harus diambil. Bukan duduk manis di belakang meja, melainkan langsung memberi arahan bahkan men-drive sekaligus memberikan feedback.

“Revolusi Industri 4.0 yang tengah berlangsung saat ini membawa banyak perubahan di berbagai sektor. Kita harus beradaptasi dengan cepat, berjuang untuk berubah, agar tidak tergilas,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dwikorita mengatakan, seluruh mahasiswa, taruna dan praja sekolah tinggi kedinasan adalah seorang 'champion' dan merupakan orang-orang yang beruntung, karena tidak semua orang bisa diterima di sekolah kedinasan sebab persaingan dan seleksi masuk yang sangat ketat.

Oleh karena itu, cara bersyukur terbaik adalah dengan bersungguh-sungguh belajar dan setelah lulus nanti harus bekerja keras dan mengamalkan seluruh ilmunya demi bangsa dan negara.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00