FOKUS: #VAKSIN COVID-19

Misi Kemanusiaan Sopir Ambulans Covid-19

KBRN, Bogor: Bak pahlawan tanpa tanda jasa, sopir ambulans dari berbagai instansi rumah sakit dan relawan kemasyarakatan terus berjibaku mengantarkan jenazah atau pasien terkonfirmasi covid-19, Minggu (25/7/2021).

Lelah penat sedih kecewa terhadap sikap masyarakat yang enggan patuh terhadap protokol kesehatan hinggap di sopir ambulans saat menangani masyarakat terkonfirmasi virus tersebut.

Dalam masa PPKM Darurat dan level 4 ini sopir ambulans hilir-mudik pontang-panting membawa pasien dan jenazah covid-19 ke berbagai tempat mulai dari rumah tempat isolasi Mandiri hingga ke pemakaman khusus.

Salah seorang sopir ambulan RSUD Cibinong Ishak mengaku setiap hari mengantarkan jenazah covid-19 tidak kurang dari 7 orang yang harus dikuburkan di sejumlah tempat pemakaman khusus covid-19, seperti di Pondok Rajeg.

Rasa miris dan sedih selalu menghinggapi dirinya membawa pasien covid-19 yang dalam hitungan jari jumlahnya melonjak lebih dari hari biasanya yang hanya dua hingga tiga orang.

"Untuk itu kita mendesak semua masyarakat agar patuh terhadap protokol kesehatan dengan tidak mengabaikan keselamatan diri sendiri dan orang lain saat beraktivitas di era pandemi covid-19 yang semakin mengganas," ungkapnya.

Jenazah covid-19 harus cepat dikuburkan karena membawa virus mematikan tersebut dalam diri sang pasien.

Sopir sopir ambulans tersebut membawa jenazah covid-19 dari rumah sakit menuju ke pemakaman dengan protokol kesehatan yang ketat.

Tidak jarang rumah sakit swasta dan pemerintah kekurangan ambulans sehingga memanfaatkan kendaraan dari pihak instansi lainnya untuk membawa jenazah ke tempat pemakaman khusus covid-19.

Salah seorang sopir jenazah covid-19 Silas Petra mengaku ada protokol kesehatan yang harus terpenuhi saat membawa jenazah tersebut.

"Kita selalu untuk meminimalisir adanya paparan covid-19 saat membawa jenazah yang sudah terbungkus sesuai prosedur Kementerian Kesehatan," ujarnya.

Dalam membawa jenazah covid-19 itupun ia kerap mengantre di tempat pemakaman khusus karena banyaknya masyarakat yang meninggal dunia dan dihantarkan menggunakan ambulans dari berbagai daerah.

Belum lagi jika ada kendala teknis seperti luas peti mati yang tidak sesuai dengan yang disediakan di areal pemakaman sehingga petugas penggali kubur harus menyesuaikan dengan besar peti yang sudah ada.

Saat ini angka masyarakat yang terkonfirmasi positif covid-19 memang meninggi karena paparan virus varian baru, Delta, semakin cepat menyebar dan menyebabkan angka kematian yang meningkat.

Salah seorang sopir ambulans khusus pasien covid-19 Ahmad menjelaskan dalam membawa pasien covid-19 tentu beda dengan membawa jenazah covid-19 karena ada alat untuk bisa melakukan tindakan di perjalanan jika terjadi kegawatdaruratan.

Ia harus berjibaku di tengah kepadatan arus lalu lintas agar pasien covid-19 tiba dengan selamat di rumah sakit yang dituju sehingga tidak jarang dirinya membawa armada kendaraan dengan zigzag di tengah kepadatan arus lalu lintas.

Berbagai kondisi pasien juga harus diterimanya dan tetap mendapatkan pelayanan maksimal untuk dapat naik ke mobil ambulans dan diantar ke rumah sakit secepatnya.

"Terkadang terdapat pasien yang sudah parah sehingga membutuhkan pertolongan dalam membawa tabung oksigen masuk ke dalam mobil ambulans. Namun untuk pasien yang masih bisa berjalan ke mobil ambulans dirinya hanya membantu ketika dibutuhkan karena khawatir adanya paparan," katanya.

Kondisi kendaraan ambulans juga harus sering disemprot disinfektan agar bisa tetap terjaga keamanan dan kenyamanan saat melintas di tengah keramaian masyarakat dan membawa pasien lainnya non covid-19.

"Rasa kemanusiaan itulah yang mendorong semua sopir ambulans dalam menangani pasien dan jenazah covid-19 di tengah pandemi yang semakin mengganas," ungkapnya.

Salah seorang sopir ambulans lainnya Jajang mengaku takut terpapar virus covid-19 sehingga untuk penanganan pasien dari rumah menuju rumah sakit dirinya memberlakukan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Bahkan untuk sejumlah kasus penanganan dirinya terpaksa menolak untuk membawa karena khawatir terpapar virus tersebut.

Bukan persoalan ongkos atau biaya pengangkutan, namun lebih pada sisi kemanusiaan sehingga ia tidak kuasa jika ada pasien yang sudah kritis untuk tidak dibawa ke rumah sakit.

Hingga saat ini bunyi sirine ambulans masih terus terdengar meraung-raung di jalanan Kota dan Kabupaten Bogor, menerobos barisan kendaraan saat kemacetan untuk membawa pasien dan jenazah covid-19 agar cepat tertangani.

Mereka tidak meminta bayaran berlebih, namun mereka hanya minta perhatian dari pemerintah untuk bisa menjamin keselamatan kesehatan mereka saat menjalankan tugas dalam misi kemanusiaan ini.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00