Pengalaman Puasa di Swedia hingga 18 Jam

KBRN, Jakarta: Duta Besar RI di Swedia Kamapradipta Ismono berbagi cerita pengalaman pertama kalinya melaksanakan ibadah puasa di negeri Skandinavia itu.

“Seharusnya teorinya masuk spring (musim semi-red), namun dengan climate change (perubahan iklim-red) cuaca di sini masih cukup dingin antara 5 sampai 10 derajat Celcius,” kata Ismono pada RRI.co.id, Kamis (6/5/2021).

Kamapradipta mengatakan, adanya perubahan iklim di sana juga berpengaruh terhadap pelaksanaan ibadah puasa, karena perubahan cuaca secara cepat yang bisa terjadi dalam sehari. 

“Sehari itu mungkin bisa 2 sampai 3 musim. Seperti contohnya hari ini sudah drop udaranya sudah 7 derajat celcius. Tadi pagi hampir sejenak 15 menit salju turun,” ujar Kamapradipta yang mulai bertugas sebagai Dubes RI di Swedia sejak Oktober 2020 itu.

Karena itu, lanjutnya, durasi berpuasa Ramadan kali ini di Swedia bahkan mencapai 18 jam, masuk kategori durasi terlama kedua di dunia setelah di Islandia.

“Kita mulai puasa dari jam 3 dini hari kemudian terus sampai hampir jam 9 malam. Jadi, ini mungkin yang terpanjang masa puasanya kedua setelah Iceland atau Islandia. Namun kita tetap dijalankan dengan sabar dengan baik karena ini bagian dari tanggung jawab sebagai Muslim,” paparnya. 

Dikatakan, selain harus ekstra sabar dalam menahan rasa lapar, singkatnya waktu malam saat musim dingin juga berdampak pada durasi pelaksanaan ibadah salat setelah berbuka puasa. 

“Kita merasa cuaca jauh lebih dingin, apalagi kalau sudah mendekati sekitar jam Ashar sekitar jam 5 (sore-red), itu sudah mulai terasa betapa dinginnya badan kita karena perut kosong tidak diisi. Untuk magrib saja itu jam 9 malam, biasanya kita buka dulu dengan takjil makan sedikit kemudian salat magrib. Kemudian, 1 jam setengah berikutnya salat Isya. Kemudian, sudah jam 10.30 malam biasanya kalau tarawih dilakukan di rumah masing-masing,” imbuhnya.

Kamapradipta menggambarkan akibat adanya pandemi COVID-19, pemerintah setempat menerapkan sejumlah langkah untuk menekan aktivitas masyarakat di luar ruangan secara berkerumun khususnya di tempat-tempat peribadatan.

“Jadi, sejak saya tiba bulan Oktober lalu, saya hanya sempat melakukan ibadah salat Jumat tiga kali. Sejak itu seluruh masjid di Swedia sudah ditutup untuk kegiatan keagamaan dan ini juga berlaku untuk gereja dan sinagog dan lain-lainnya,” ungkapnya. 

Selain, adanya kebijakan penutupan masjid turut berimbas pada aktivitas umat muslim yang kerap dilakukan setiap Ramadan.

“Tapi, untuk di Swedia ini mungkin bisa saya sampaikan sebelumnya memang sebelum pandemi kegiatan salat magrib di berbagai Masjid, itu dibuka selain kegiatan salat magrib juga diiringi dengan buka puasa dengan ada beberapa yang menjual takjil makanan berbuka puasa dan lain sebagainya. Mungkin untuk tahun ini dan mungkin juga untuk tahun lalu situasi ini sudah ditiadakan,” terangnya.

“Karena, disini komunitas muslim di Swedia cukup bervariatif ada yang di Suriah, Asia Tengah, Asia Selatan, serta Turki. Jadi, terbayang kalau kita salat magrib atau buka puasa di masjid sudah terbayang hidangan makanan atau takjil apa yang akan disajikan dari berbagai negara,” tambahnya. 

Termasuk, kata dia, tradisi pengajian bersama di Kedutaan Besar RI (KBRI) Stockholm pun terpaksa diselenggarakan secara campuran baik daring maupun luring. 

“Untuk pengajian disini kita lakukan secara hybrid (campuran-red) mengundang beberapa anggota pengurus pengajian komunitas Indonesia di sini, untuk pengajian di wisma (KBRI-red) mungkin tidak lebih dari 6 orang. Karena, ketentuannya tidak boleh berkumpul lebih dari 8 orang di sini. Jadi kita lakukan pengajian secara sederhana, namun kita lakukan dengan hybrid dengan menyalakan zoom. Sehingga, warga lainnya bisa melakukan pengajian juga bisa menyimak dan melakukan pengkajian secara langsung secara zoom,” tuntasnya

Untuk diketahui, Swedia yang terletak di Eropa Utara merupakan salah satu negara ramah terhadap warga muslim. Yaitu, dengan total populasi 10.23 juta jiwa, persentase warga muslim di Swedia mencapai 8.1 persen. (Foto : KBRI Stockholm)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00