HUT ke-75, Ini Sejarah TNI AU

Logo peringatan HUT TNI AU ke 75 (Foto: istimewa)

KBRN, Jakarta: Tepat di hari ini Jumat (9/4/202) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) memperingati hari kelahirannya ke 75 tahun.

Selama 75 tahun ini tentu, TNI AU selalu memberikan perfoma terbaik dalam menjalankan tugas negara. Terbukti dengan kecintaan masyarakat terhadap TNI AU.

Sejarah lahirnya TNI AU bermula dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada Tanggal 23 Agustus 1945, guna memperkuat Armada Udara yang saat itu sangat kekurangan pesawat terbang dan fasilitas-fasilitas lainnya, demikian seperti dikutip laman resmi TNI AU.

Sejalan dengan perkembangannya berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pada 5 Oktober 1945 dengan nama TKR jawatan penerbangan di bawah Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.

Kemudian, pada 23 Januari 1946 TKR ditingkatkan lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), sebagai kelanjutan dari perkembangan tunas Angkatan Udara. Setelah itu, pada tanggal 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan dihapuskan dan diganti dengan Angkatan Udara Republik Indonesia.

Kini, peristiwa tersebut diperingati sebagai hari lahirnya TNI AU yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Selain itu, salah satu sejarah monumental yang selalu diperingati jajaran TNI AU setiap tahun adalah apa yang dinamakan Hari Bhakti TNI AU. Peringatan Hari Bhakti TNI AU, dilatarbelakangi oleh dua peristiwa yang terjadi dalam satu hari pada 29 Juli 1947.

Peristiwa pertama, pada pagi hari, tiga kadet penerbang TNI AU, masing-masing Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei berhasil melakukan pengeboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga tempat, yaitu Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.

Peristiwa kedua, jatuhnya pesawat DAKOTA VT-CLA yang megakibatkan gugurnya tiga perintis TNI AU masing-masing Adisutjipto, Abdurahman Saleh dan Adisumarmo.

Pesawat Dakota yang jatuh di daerah Ngoto, selatan Yogyakarta itu bukanlah pesawat militer, melainkan pesawat sipil yang disewa oleh pemerintah Indonesia untuk membawa bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya.

Penembakan dilakukan oleh dua pesawat militer Belanda jenis Kittyhawk, yang merasa kesal atas pengeboman para kadet TNI AU pada pagi harinya.

Untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanan ketiga perintis TNI AU tersebut, sejak Juli 2000, di lokasi jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA (Ngoto) telah dibangun sebuah monumen perjuangan TNI AU.

Di lokasi tersebut juga dibangun tugu dan relief tentang dua peristiwa yang melatarbelakanginya. Di lokasi monumen juga dibangun makam Adisutjipto dan Abdurachman Saleh beserta istri-istri mereka.

Maka dari itu, ditahun ini TNI AU ke-75 mengambil tema “Dilandasi Jiwa Ksatria, Loyal, Militan dan profesional, TNI AU siap mendukung percepatan penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional".

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00