Inspirasi Pola Asuh Ria Ricis di Masa Kecil

KBRN, Jakarta: YouTuber Indonesia, Ria Ricis dikabarkan akan segera melepas masa lajangnya dengan calon suaminya bernama Teuku Rushariandi atau Teuku Ryan yang berasal dari Aceh. Pertunangan mereka yang dilaksanakan pada Kamis, 23 September lalu, telah diliput oleh salah satu stasiun TV swasta Indonesia secara live, dan beberapa rekannya meliput secara langsung melalui kanal YouTube-nya masing-masing dan telah ditonton ribuan penggemarnya dalam waktu beberapa menit saja.

Ria Ricis yang memiliki nama asli Ria Yunita ini memulai kariernya sebagai selebgram atau content creator sejak 2015, dan merambah menjadi YouTuber dengan jumlah subscriber saat ini mencapai 26,4 juta.

Wanita kelahiran Batam pada 1 Juli 1995 ini mendapat julukan "Ratu YouTuber" karena memiliki jumlah subscriber terbanyak kedua se Asia Tenggara pada 2019.

Dalam sebuah acara yang diselenggarakan pada tanggal 6 Januari 2020 oleh LPIT Al-Uswah Tuban, Al-Uswah Fest dengan tema “17 Tahun Membangun Generasi” , kakak Ria Ricis, Ustadzah Oki Setiana Dewi yang bertindak sebagai narasumber, menyampaikan prolog tentang pola asuh Ria Ricis saat masih kecil.

Dikatakan oleh Oki, Ayah dan Ibu mereka merupakan sosok yang sederhana, mereka adalah lulusan SMA dan bukan dari lingkungan pondok pesantren, dan ketiga anaknya bukan berasal dari lingkungan sekolah yang formal agama. Ayah dan Ibu mengajarkan Islam seperti keluarga pada umumnya, mereka mengajak kami sholat, mengaji, dan pergi ke mushola untuk membaca Alquran. 

Menurut Oki, Ayah adalah sosok yang mengajarkan kedisiplinan luar biasa dan mengajarkan skill dan mengembangkan potensi kepada ketiga anaknya. Ayah kami juga mengajarkan jika menginginkan sesuatu harus usaha sendiri, jika ingin membeli sesuatu harus cari uang sendiri. Jadi ketika masih kecil kami dilatih untuk berjiwa produktif, dan tidak membeli sesuatu yang tidak kami butuhkan. 

Lanjut dia, dari pola asuh tersebut kami (Oki, Shindy & Ria, red) dapat menghasilkan uang sendiri sejak usia muda. Nama Ria Ricis adalah nama yang dibuat sendiri oleh Ria yang berarti Ria cantik dan manis.

Perbedaan yang mencolok antara Oki, Shindy kakak kedua Ria Ricis yang sekarang berprofesi sebagai dokter, dan Ria Ricis, adalah ketika sekolah. Oki dan Shindy selalu rangking satu, namun Ria Ricis, jika siswa dalam satu kelas ada 25, ria mendapat rangking 23, 24 atau 25. 

Sehingga saat kenaikan kelas yang ditanyakan oleh orang tua ke gurunya adalah apakah anak saya naik kelas? Jika Ria Ricis Naik kelas, itu sudah membuat orang tuanya bersyukur.

Kata Oki, Ria Ricis tidak suka belajar.. Jika ada pelajaran hitung-hitungan yang Ria Ricis lakukan adalah “Bu guru saya pusing, saya ijin ke UKS”, mencari alasan agar tidak belajar hitung-hitungan.

Lalu apakah orang tua Ria Ricis marah dengan hal tersebut? Atau menuntut Ria Ricis agar seperti kakak-kakaknya?. Tidak, yang dilakukan orang tua Ricis adalah bertanya pada Ria Ricis “Apa yang kamu suka?” Ria Ricis sangat menyukai pelajaran yang berbau seni, dan jawaban dari orang tua adalah, “Oke, maka jadilah kamu hebat dalam bidang seni tersebut”.

Orang tua Ricis mengajarkan bahwa setiap anak memiliki kecerdasannya masing-masing, memiliki potensinya masing-masing dan hal tersebut didukung oleh orang tua mereka. Sehingga walaupun nilai Ria Ricis kurang dalam bidang matematika dan Ipa, namun Ria Ricis berprestasi dalam bidan seni. Hal tersebut dapat kita lihat bersama bahwa saat ini Ria Ricis menjadi seorang YouTuber dengan kreatifitas yang luar biasa. Di usianya 20 tahun Ria Ricis sudah memiliki penghasilan sendiri dan telah membantu banyak orang.

Positive Parenting

Belajar dari pengalaman pola asuh keluarga Ria Ricis, keluarga mempunyai peran yang penting dalam pembentukan karakter anak, karena keluarga merupakan tempat seseorang dibesarkan, mulai dari anak-anak, remaja hingga menjadi dewasa. 

Orang tua mempunyai peran penting dalam mengasuh, membimbing, dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi pribadi yang mandiri. Keluarga juga menjadi tempat pertama kali individu berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, sehingga menentukan bagaimana terbentuknya kepribadian pada diri individu. Pernyataan tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Hurlock (2002), yaitu pembentukan kepribadian terletak pada bagaimana peran orang tua beserta anggota keluarga yang lain dalam memberikan pengasuhan dan berinteraksi dengan anak-anaknya.

Kesuksesan seorang anak tidak terjadi dengan sendirinya, namun dipengaruhi antara lain oleh pola asuh yang diterapkan orang tua, pola pendidikan yang diterapkan di sekolah, dan pola kehidupan yang ada dilingkungan masyarakat. Dari beberapa faktor yang telah disebutkan, pola asuh merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi proses perkembangan potensi pada anak.

Pola asuh yang tidak tepat, tentu akan memunculkan berbagai dampak berupa permasalahan perilaku dan emosional pada anak. Steinberg (dalam dalam Mubarok, 2016) mengemukakan bahwa pengasuhan yang negatif disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya kemiskinan, ketidakstabilan mental orang tua, kurangnya dukungan sosial untuk keluarga, dan pemahaman yang salah tentang pengasuhan. 

Efek negatif dari pengasuhan yang tidak tepat antara lain memiliki kompetensi sosial dan harga diri yang rendah, mengalami kesulitan untuk mengelola emosi, mengalami hambatan belajar atau tinggal kelas, serta berisiko mengalami gangguan psikologis ketika dewasa (Steinberg dalam Wijaya, 2015).Melihat dari permasalahan tersebut, kita sebagai orang tua atau calon orang tua harus terus belajar ilmu-ilmu parenting dari berbagai sumber. Kita juga dapat belajar dari figure orang tua yang telah berhasil mengembangkan karakter putra-putrinya, seperti orang tua Ria Ricis. 

Orang tua Ria Ricis berusaha menciptakan lingkungan yang nyaman dan bersahabat, hal tersebut dapat dilihat dari beberapa vlog Ria Ricis saat berkomunikasi dengan Ayahnya, Alm Sulyanto. Selain itu orang tua Ria Ricis juga melatih anaknya untuk disiplin, berusaha terlebih dahulu ketika menginginkan sesuatu serta mendukung apapun yang ingin dilakukan oleh anakknya selama hal tersebut tidak melanggar aturan agama.

Mengasuh dengan cara yang positif atau dikenal dengan sebutan positive parenting akan memberikan rasa aman dan nyaman kepada anak. Positive parenting bermanfaat untuk meningkatkan interaksi orang tua dan anak secara positif, meningkatkan keterampilan sosial anak, dan mencegah permasalahan perilaku dan emosional pada anak (Glazemakers dalam Nur, Sheila R & Cipta Nurliana A, 2020). Sujiono (Nur, Shela R & Cipta, Nurliana A, 2020 ) menjelaskan bahwa positive parenting ini sejalan dengan sistem pendidikan yang diterapkan oleh Ki Hajar Dewantara, yang mana dikenal dengan sebutan sistem among. 

Sistem among merupakan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah, dan asuh (care and deducation based on love).Positif perenting atau biasa disingkat dengan Triple P adalah suatu program yang dibuat dengan sistem pengasuhan dan dukungan keluarga yang dirancang oleh (Sanders, dalam Indrawati 2020). 

Ada lima prinsip dalam Triple-p yaitu: pertama menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak bereksplorasi, kedua menciptakan lingkungan belajar yang positif, ketiga menggunakan pilihan disiplin asertif, keempat memiliki harapan yang real pada anak, dan kelima memberikan pelajaran pengasuhan yang positif sebagai orang tua (Indrawati, 2020)Menurut Indrawati (2020) positif parenting memiliki banyak manfaat baik kepada orang tua maupun kepada anak.

Di antaranya: (1) orang tua dalam mengasuh anak akan merasa lebih senang, nyaman, lega, rileks dan tenang, (2) anak akan lebih mudah untuk mengubah sikapnya ketika mereka paham bahwa apa yang dilakukannya adalah keliru, (3) anak mudah menerima nasihat dari orang tua, (4) anak belajar mengendalikan emosi yang dimilikinya, (5) anak akan memiliki sikap terbuka kepada orang tua, (6) anak lebih memiliki percaya diri yang bagus, (7) anak akan selalu nyaman dan senang bersama dengan orangtuanya.

Rujukan :Hurlock, Elizabeth B. (2002). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: ErlanggaIndrawati, Triana I.2020. EFEKTIVITAS PROGRAM POSITIF PARENTING DALAM MENGURANGI STRES PENGASUHAN PADA IBU MUDA; Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini Vol.3 No.2 (2020) 201-215.Nur, Shela R & Cipta, Nurliana A.2020. POSITIVE PARENTING: PERAN ORANG TUA DALAM MEMBANGUN KEMANDIRIAN ANAK TUNAGRAHITA: Jurnal Prosiding Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No: 2 Hal: 329 – 340.Sanders, M. R. (2012). Development, Evaluation, and Multinational Dissemination of the Triple P-Positive Parenting Program. Annual Review of Clinical Psychology, 8(1), 345– 379. https://doi.org/10.1146/annurev-clinpsy-032511-143104Wijaya, Yeny D. (2015). Positive Parenting Program (Triple P) sebagai Usaha untuk Menurunkan Pengasuhan Disfungsional pada Orang Tua yang Mempunyai Anak Berkebutuhan Khusus (dengan Diagnosa Autis dan ADHD). Jurnal Psikologi, 13(1), 21-25.https://portalpurwokerto.pikiran-rakyat.com/seleb/pr-1152636433/biodata-dan-profil-ria-ricis-lengkap-nama-asli-youtuber-kocak-yang-bakal-lepas-masa-lajang-dengan-teuku-ryan

Oleh : Nuriah HalleydaMahasiswa Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00