Cerita 'Butir-Butir Pasir di Laut' Melintas Batas Usia

Sinetron Butir-Butir Pasir di Laut. (Foto: Ist)

KBRN, Jakarta: Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP-RRI) kembali menggaungkan sandiwara radio ‘Butir-Butir Pasir di Laut'. Namun kali ini konsepnya sudah berbeda.

‘Butir-Butir Pasir di Laut' yang mengisahkan tentang perawat dan dokter di pedalaman Jawa ini pada awalnya hanya bisa didengar melalui tayangan RRI. 

Namun kini, LPP RRI bekerja sama dengan pihak production house membuat sinetron dengan setting tahun 80-an namun dikemas kekinian. Sinetron yang diproduksi ini diharapkan mampu melintas batas usia. 

'Butir-Butir Pasir di Laut', merupakan sebuah acara sandiwara radio yang sudah melegenda sejak 22 Februari 1972. Sudah diproduksi lebih dari 5.700 episode, dan pernah mendapatkan penghargaan sebagai sandiwara radio terbaik dari UNESCO.

"for its generous contributions to technical corporation with other developing for the strengthening of population and family planning communication and with the ultimate objective of reducing excessive population growth and creating a better life for all the world's people."

LPP RRI juga telah mendapatkan hak cipta dari Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta atas karyanya menciptakan Karya Siaran Media Radio, dengan judul ‘Butir-Butir Pasir di Laut'.

Selama 15 tahun ‘Butir-Butir Pasir di Laut’ menjadi sandiwara yang ditunggu setiap hari. Karya besar yang ditulis oleh Eddy Basrul Intan ini disutradarai oleh John Simamora.

Saat itu, sandiwara ini bekerja sama dengan BKKBN terkait Program Keluarga Berencana: 2 anak saja cukup. Pemain sandiwara ini adalah karyawan RRI sendiri seperti Olan Sitompul, Benny Hasyim, Arif Rustam, Hasti Askasari, Ning Suseno dan Mariati. 

Dalam perkembangannya baru muncul sandiwara radio di antaranya Tutur Tinular, Misteri Gunung Merapi dengan suara mengerikan dari tokoh Ma'lampir, Saur Sepuh, Nini Pelet, maupun Satria Madangkala. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00