Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Tayang 2 Desember

KBRN, Jakarta; Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, seperti kalimat untuk mengungkapkan rindu yang terbendung daripada untuk menjadi sebuah film, namun, inilah yang terjadi.

Film ini diangkat dari novel penulis dengan penghargaan internasional Eka Kurniawan, dengan judul yang sama.

Kehadiran film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" seakan membayar lunas pula penantian dari para penikmat film Indonesia yang sudah lama tidak hadir di ruang sinema atau layar lebar manapun.

Film Indonesia kembali menunjukkan tajinya di rumah sendiri dengan menggandeng RRI sehingga menghasilkan karya sineas yang dinanti.

"Tumbuh besar di masa kejayaan rezim militer, cerita dan mitos mengenai heroisme dan kejantanan lelaki menjadi sangat familiar bagi saya. Kejantanan adalah tolok ukur kelelakian. Budaya toric masculinity memaksa lelaki untuk tidak terlihat lemah dan masih sangat terpampang di Indonesia hari ini, di masyarakat yang seharusnya kini lebih terbuka pikirannya dan demokratis ketimbang di era 80an/90an. Saya melihat Indonesia berusaha keras mencoba untuk mengatasi rasa takutnya akan impotensi. Ketakutan yang membawa kita kembali ke budaya kekerasan yang dinormalisasi," kata Sutradara Film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas", Edwin, Rabu (17/11/2021).

Sejumlah adegan yang lagi tidak umum di pandangan masyarakat dan peringatan "18+ Khusus Dewasa" jelas terpampang. Seakan memberi tanda awas bagi calon penonton supaya tidak membawa anak di bawah umur untuk menikmatinya.

Ajo Kawir dan Iteung sebagai tokoh utama dalam cerita ini, melakoni peran dua tukang pukul yang kemudian jatuh cinta dan menikah. Bukanlah sebuah akhir kisah pelaminan itu, namun awal petualangan keduanya.

Pahit rindu dan asamnya dendam dirasakan keduanya.

Adegan seksual, laga, balapan truk antar kota, juga tidak lepas dari judul film ini. Perkelahian tangan kosong di tengah tambang hingga membuat darah menempel di dinding bak kuas cat untuk mengganti warna tembok rumah pun juga ada.

Pemenang hadiah utama Golden Leopard di Locarno Film Festival itu, segera tayang mulai 2 Desember di bioskop seluruh Indonesia. Film yang disutradarai pemenang Piala Citra Edwin ini dibintangi oleh Marthino Lio dan Ladya Cheryl juga turut dibintangi Reza Rahadian, Ratu Felisha, dan memperkenalkan Sal Priadi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00