Tahun Ajaran Baru 2020/2021 di kota Gunungsitoli, Pembelajaran Jarak Jauh Pola Luring, Pembelajaran Tatap Muka? Ada Syaratnya

Kepala Dinas pendidika kota Gunungsitoli, Kurnia Zebua

Jelang Tahun Ajaran baru 2020/2021 yang resmi dimulai tanggal 13 Juli 2020, Dinas Pendidikan kota Gunungsitoli memastikan tidak ada sekolah tingkat TK/Paud, SD dan SMP yang akan melaksanakan pembelajaran tatap muka. Sistem pembelajaran yang dilaksanakan yakni Pembelajaran Jarak Jauh atau Belajar dari rumah dengan pendekatan Luring (Luar Jaringan).

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Gunungsitoli Kurnia Zebua pada Dialog Isu actual yang digelar Rabu (8/07/2020)//

Kebijakan ini diambil sesuai ketentuan yang diatur pada Surat Keputusan Bersama 4 Menteri serta diperkuat dari hasil rapat yang dilakukan Gugus Tugas percepatan Penanganan Covid 19 kota Gunungsitoli pada hari Selasa yang lalu. Memang untuk tingkat SMP/MTs dimungkinkan  untuk melakukan pembelajaran tatap muka pada bulan Juli ini, sedangkan untuk tingkat SD bulan September sedangkan TK/Paud pada bulan November.

Namun menerapkan pembelajaran tatap muka menuntut sekolah untuk memenuhi sejumlah persyaratan.Sejauh ini belum ada sekolah di kota Gunungsitoli yang menyanggupi dan menyatakan diri melaksanakan pembelajaran tatap muka.

“Syaratnya, Gugus tugas harus setuju, sekolah harus memenuhi semua daftar periksa, dan siap pembelajaran tatap muka, serta terakhir orang tua murid setuju dilakukannya pembelajaran tatap muka”, beber Kurnia.

Kurnia menerangkan untuk tahun ajaran baru 2020/2021, Dinas pendidikan sudah menyusun Panduan Pembelajaran Jarak Jauh pola pendekatan Luring. Panduan ini sudah disosialisasikan di 6 kecamatan dan diharapkan setiap guru sudah mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (RPPJJ) yang meliputi Tujuan Pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan Penilaian.

“Jadi guru mempersiapkan bahan-bahan yang harus dipelajari oleh siswa dalam bentuk Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) lalu diserahkan kepada orang tua siswa, dan 1 kali setiap minggu orang tua/wali siswa datang menjemput LKPD sekaligus menyerahkan tugas yang telah diberikan sebelumnya”, jelasnya lagi.

“Jadi tanggal 13 Juli ini, hari pertama hingga hari ketiga yang biasanya digunakan untuk masa perkenalan sekolah, menjadi kesempatan pihak sekolah mensosialisasikan system pembelajaran jarak jauh kepada orang tua, jadi bukan siswa yang datang”, tegas Kurnia.

Untuk itu Kurnia memohon kerjasama dari orang tua untuk memuluskan Sistem Pembelajaran jarak Jauh/ Belajar dari rumah pola pendekatan Luring, ia menjamin LKPD dirancang agar mudah dipahami oleh orang tua.Jika ada kasus orang tua tidak bisa baca tulis dan tidak wali yang bisa membantu, maka kebijakannya guru disekolah itu harus mendatangi rumah siswa.

Sementara itu Lina dari desa Miga yang memiliki anak yang menempuh pendidikan SMP mengeluh saat mengambil bahan materi yang dipelajari, ia hanya berhadapan dengan tenaga admistrasi dan bukan guru, alhasil ia kesulitan mendiskusikan bahan pelajaran anaknya.

“Jadi terkesan Guru hanya mendistribusikan bahan kepada orang tua, padahal kami juga punya pertanyaan tentang bahan pelajaran tapi yang kami hadapi malah tenaga admistrasi sekolah”, keluh Lina.

Menjawab hal itu Kurnia memastikan akan menginstruksikan kepada satuan pendidikan agar Guru kelas atau Guru Mata pelajaran yang menyerahkan LKPD kepada orang tua siswa dan membuka ruang bagi orang tua bertanya tentang hal yang kurang dimengerti.

“Saya pastikan hal itu tidak akan terjadi lagi pada tahun ajaran baru ini”, pungkas Kurnia.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00