Tausiah di LDII, MUI Bahas 3 Rukun Bernegara

KBRN, Kediri: Pondok Pesantren Wali Barokah yang menjadi mitra strategis LDII dalam melahirkan juru dakwah, menghelat tausiyah kebangsaan. Sebagai narasumber utama Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) KH Marsudi Syuhud. 

Marsudi mengatakan pentingnya hubungan antar manusia karena dengan hubungan tersebut, rohani, pikiran, amaliyah dan berbagai hal lainnya dapat bertemua dan ketika semuanya tersambung, keberkahan itu hadir. 

Marsudi bercerita, hubungan antar manusia itu menurutnya sudah dicontohkan Rasulullah SAW dalam membangun negara kecil bernama Madinah yang tertuang dalam Piagam Madinah. 

Dalam pandangannya, Rasulullah mendirikan negeri Madinah sebagai negara untuk menyambung, mengikat masyarakat di dalamnya untuk hidup bersama meskipun tidak satu agama.

"Islamnya saja ada golongan Muhajirin ada Ansor, ada Yahudi, Nasrani, dan Majusi yang bukan agama samawi. Dari beragam agama itu diikat untuk menyatukan perbedaan. Sebagai penyatu perbedaan, Rasulullah memiliki kemampuan yang mumpuni sebagai hakim, jenderal ketika perang, hingga mengurus ketertiban, bahkan Rasulullah sampai mengurusi akhlak,” tuturnya dalam rilis yang diterima RRI, Minggu (13/6/2021).

Marsudi menambahkan saat Turki Utsmani runtuh, negara-negara memisahkan diri dan para tokohnya untuk bermusyawarah dan berijtihad mengenai negara mereka. Pada tahun 1936 Nahdlatul Ulama dalam Muktamar 1936 sudah membahas bentuk negara Indonesia. Berangkat dari musyawarah itulah lahirlah dasar negara, kemudian, Pancasila ditetapkan menjadi dasar negara atas musyawarah. 

“Jadi bila ada yang bertanya pilih Alquran atau Pancasila, itu sama halnya menanyakan bumbu pecel tumpang atau pecel tumpang, bakso atau buletan bakso. Jadi tidak dapat ditanyakan seperti itu karena Pancasila itu terdapat dalam Alquran. Maka tugas pemerintah adalah menyambungkan hukum yang tetap berupa Alquran dan Sunnah ke dalam aturan-aturan, demi kemaslahatan umat,"

“Alquran dan Sunnah itu hukum yang tetap, sementara masalah terus tumbuh dan berkembang, maka pemerintah tinggal membuat aturan untuk kemaslahatan. Lampu lalu lintas tidak ada dalam Alquran dan Alhadits, namun karena maslahat untuk umat manusia, maka itu sudah memenuhi aturan yang syariah,” tambahnya. 

Ia memisalkan lagi, mengenai wabah Covid-19. Rasulullah menyuruh umatnya waspada dan lari sebagaimana waspada terhadap singa. Maka kata Marsudi aturan turunannya ya lockdown dan bansos. 

"Negeri ini tentu ada kekurangannya, maka kekurangannya yang diperbaiki bukan membubarkan negerinya. Konteks hubungan negara dan agama terdapat dalam tiga hal," katanya.

Pertama, negara harus mampu membuat hubungan antara hukum tetap (Alquran dan Alhadist) dengan produk undang-undang yang dihasilkan negara. Aturan yang dibuat negara harus bermanfaat dan mengurangi kemaksiatan atau kekacauan.

Kedua, bernegara itu harus bisa menyatukan maslahat umum dan individu. Contohnya pajak, hasil pajak bermanfaat untuk kepentingan umum. Namun adakalanya masyarakat dalam kondisi tak mampu bayar pajak, maka aturannya diubah bisa afirmasi atau tax holiday.

Ketiga, menyatukan atau merukunkan kepentingan materi dan rohani. Saat negara memperbolehkan shalat, puasa, haji, dan ibadah-ibadah lainnya bahkan mengurusinya maka sudah syariah. 

"Meskipun bakal ada tabrakan antara syariah dan maksiat, misalnya ada korupsi bantuan sosial, maka korupsinya dibasmi bukan bantuan sosialnya yang dihilangkan," ucap Marsudi.

Untuk itu Marsudi mengingatkan, negara yang didasari musyawarah, maka hukumnya wajib menjaga kesepakatan musyarawah tersebut. Apa yang kurang dari negeri ini, ia berpesan untuk diperbaiki bersama. 

"Bukan negaranya yang dirobohkan. Lebih baik menjadi orang miskin di negeri yang kuat dan kaya, ketimbang menjadi orang kaya di negeri yang barbar, penuh ancaman, dan ketidakpastian," katanya.

Menanggapi hal itu Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso menekankan pentingnya menjalin silaturahim. Dengan silaturahim itu, para tokoh agama dapat turut memikirkan bangsa dan negara sebagai kontribusi untuk menjadikan Indonesia negeri yang makmur dan penuh rahmat dari Allah SWT.

“Tausiyah ini jadi penting untuk memperkuat _ukhuwah Islamiyah_, agar _ukhuwah wathoniyah_ juga kuat, dan ketiga _ukhuwah basariyah_ terjaga. Para pendiri bangsa mendirikan negeri ini atas perbedaan yang tak bisa dihindari, dan para ulama menjadi motor penggerak perjuangan. Dari perbedaan itu, justru kita menyatu,” kata Chriswanto.

Chriswanto menambahkan di tengah era digital ini, internet mempermudah lalu-lalang informasi. Namun teknologi itu, juga mempermudah fitnah menyebar. 

"Digitalisasi memungkinkan menulis atau mengubah suara menjadi saya, padahal pesan-pesannya bukan dari saya. Ini bisa mendatangkan fitnah dan perpecahan umat," katanya.

Sementara sebagai tuan rumah, Pimpinan Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri, KH Soenarto menuturkan tausiyah kebangsaan MUI ini penting dalam kondisi keumatan yang menghadapi masalah yang kompleks dan multidimensi.

Sebagai pondok pesantren yang diamanati DPP LDII, untuk menghasilkan juru dakwah kata KH Soenarto, posisi pondok pesantren Wali Barokah sangat strategis.

"Untuk itu para juru dakwah perlu dibekali ilmu agama yang kaffah dan wawasan kebangsaan yang kuat dan mantap," katanya.

Diketahui acara yang diikuti DPW dan DPD LDII di seluruh Indonesia secara daring itu diikuti lebih dari 5.000 orang yang terdiri para ulama dan para pengurus LDII, serta perwakilan dari MUI di provinsi dan kabupaten/kota.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00