Kekerasan Pada Anak Meningkat Selama Pandemi Covid 19

Manager PKPA Nias Chairidani Purnamawati SH

KBRN, Gunungsitoli: Prihatin dengan angka kekerasan yang dialami anak-anak di kepulauan Nias, Manager Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Nias, Chairidiani Purnamawati SH mengatakan tahun 2021 ini akan meluncurkan Program Pendampingan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).

Program ini sebutnya akan menjadi pilot project dan dilaksanakan di 2 desa berdasarkan rekomendasi dari pemerintah kota Gunungsitoli sebagai program unggulan PKPA Cabang Nias. PATBM ini menurutnya bukanlah hal baru namun di kepulauan Nias baru pertama kali dengan tujuan agar menciptakan aktivis-aktivis perlindungan anak di desa. Yang menarik dari Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat ini, selain menangani kasus, PATBM juga mempunyai kewajiban memberi kependidikan kepada para orang tua.

“Kalau hanya mengharapkan pemerintah daerah yang menangani kasus-kasus kekerasan pada anak yah pasti tidak akan tercover, makanya perlu dibentuk aktivis-aktivis perlindungan anak untuk menangani kasus di desa-desa, mereka menjadi aktivis PATBM yang akan memberi parenting skill”, jelas Chairidani, Rabu (20/01/2021).

Ia mengungkapkan dari survey yang dilakukan PKPA cabang Nias pada bulan November tahun 2020 yang lalu terungkap bahwa kondisi pandemic covid 19 memicu meningkatnya kekerasan pada anak. Sebanyak 200 anak dari 2 desa dampingan PKPA disurvey dan hasilnya mengejutkan 100 persen anak mengaku mendapat kekerasan saat proses belajar dari rumah

“Kasus-kasus kekerasan anak sudah terjadi namun di masa pandemic covid 19 semakin meningkat. Orang tua dipaksa menjadi guru, padahal ada orang tua yang tidak tamat SD bahkan tidak bisa baca tulis, bagaimana bisa mengajar anak-anaknya di rumah”, tuturnya lagi.

Menurutnya pembelajaran tatap muka sangat perlu untuk selalu mengingatkan kepada anak-anak bahwa ia merupakan seorang siswa yang mempunyai tugas untuk belajar.

Namun dengan situasi pandemic seperti saat ini pembelajaran tatap muka bisa dilakukan secara daring misalnya dengan google meet atau zoom, sehingga tugas mengajar dan mendidik tetap menjadi tugas guru bukan orang tua yang sehari-hari sudah direpotkan dengan tugas bekerja dan mencari nafkah keluarga.(IND)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00