Berhasil Diselamatkan, Penyu dan Tukik Dilepasliarkan di Perairan Onolimbu

Penyu Lekang dan Tukik Dilepasliarkan di Pantai Onolimbu Desa Tagaule Kecamatan Bawolato Kabupaten Nias

KBRN, Gunungsitoli: Dengan tertatih-tatih, satu persatu tukik (bayi penyu) itu berjalan menuju ke laut, meninggalkan puluhan orang yang bersorak-sorak memberi semangat. ”Ayo, ayo, ayoo!,” sambil bertepuk tangan, Senin (9/8/2022).

Ketika menyentuh air laut seketika mereka berenang mengikuti ombak yang menarik mereka semakin jauh meninggalkan pantai, siap memulai kehidupan barunya.

Sore yang terik itu, sebanyak 35 tukik dan 3 penyu Lengka dewasa dilepasliarkan ke habitat aslinya di Perairan Onolimbu, Desa Tagaule, kecamatan Bawolato, kabupaten Nias, Sumatera Utara.

Sebelumnya tukik-tukik ini ditetaskan di Rumah Penyu Nias di Jalan Pelud Binaka, kecamatan Gunungsitoli Idanoi yang dikelola Komunitas Penyu Nias. Java Gea Pimpinan komunitas ini menuturkan tukik ini berasal dari telur penyu yang mereka beli dari nelayan. Telur ini sengaja diambil nelayan untuk dijual kepada masyarakat.

“Kebetulan saat itu Saya mau menyelam di Perairan Onolimbu, lalu ada nelayan membawa telur penyu, katanya mau dijual. Harganya Rp1000/butir, Saya beli semuanya sekitar 100 butir. Awalnya akan Saya kubur di pasir di Pulau Onolimbu, lalu nelayannya bilang jangan karena nanti pasti ditemukan orang dan diambil, bisa juga disantap ular atau biawak,” kata Java.

Akhirnya semua telur itu ia bawa ke rumah dan mulai mencari tahu bagaiman cara menetaskan telur penyu. Dengan peralatan seadanya dan coba-coba akhirnya dari 100 telur penyu hanya 35 telur yang menetas. “Saya terus belajar dan mencari tahu, saya pake bohlam lampu sebagai pemanas dan Puji Tuhan akhirnya pada generasi kedua bisa menetas sampai 75 telur dan sekarang sudah generasi ketiga sedang proses penetasan 180 telur,” tuturnya.

Sedangkan 3 ekor Penyu Lengka yang dikembalikan ke laut, Ia beli kepada nelayan lokal yang akan menjual kepada peminat daging penyu. Ia membayar Rp350 ribu untuk satu ekor penyu Lengka. “Memikirkan penyu ini akan disembelih dan dimakan, aduh kasihan rasanya, Saya beli saja tiga-tiganya biar mereka bisa kembali ke habitatnya”.

Perairan Onolimbu yang terbentang luas memiliki banyak terumbu karang. Penyu-penyu akan memakan lumut-lumut yang tumbuh pada terumbu karang, juga memakan ubur-ubur dan rumput laut sehingga mengontrol keseimbangan rantai makanan.

Menurut Java ketidaktahuan nelayan dan masyarakat akan peranan penting penyu pada ekosistem laut membuat mereka tidak segan untuk membunuh dan mengkomsumsi daging penyu. Cangkang penyu lalu dijual kepada pengrajin untuk dijadikan perhiasan Goyo seperti gelang, cincin, kipas dan tali pinggang. Tidak hanya itu, telur-telur penyu sengaja diambil untuk dijual dengan harga relative murah. “Sebenarnya sih tidak sengaja diburu, penyu-penyu ini kadang terjaring di jala nelayan, maunya kan dikembalikan ke laut, tapi mereka malah membawa ke daratan lalu dikomsumsi,” ucapnya prihatin.

Bayi-bayi penyu itu baru berusia 3 bulan. Mereka sudah tidak tampak ditelan lautan, mereka siap bertarung di dunia mereka yang sesungguhnya, mereka akan berkelana, mereka akan berkembangbiak di lautan yang kaya akan makanan. Dari pasir Onolimbu mereka berasal, disinilah penyu-penyu itu kembali sekarang.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar