Belum Memiliki Serifikat Halal, UKM Terkendala Memasarkan Produknya di Market Place

Bubuk Jahe Salah Satu Produk UKM Tohare di Desa Lolomoyo Tuhemberua Kecamatan Gunungsitoli Barat

KBRN, Gunungsitoli: Para pelaku usaha di kota Gunungsitoli berharap tahun 2022 ini semakin meningkatkan omset penjualannya melalui pasar yang lebih luas.

Ketua UKM Tohare, Yaniati Lase yang diwawancara rri.co.id di rumahnya di desa Lolomoyo Tuhemberua kecamatan Gunungsitoli Barat pagi tadi mengatakan sejak memulai usaha di UKM Tohare ini tahun 2014 yang lalu pemasaran produk mereka masih merambah kota Gunungsitoli dan kepulauan Nias.

Kerinduan mereka produk yang mereka produksi yakni Keripik Gamumu, Virgin Coconut Oil (VCO) dan Bubuk Jahe bisa dijual melalui market place sehingga dikenal dan dikomsumsi oleh masyarakat Indonesia.

Sayang hingga hari ini mereka terganjal dalam kepengurusan label halal yang menurut mereka cukup ribet dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Inilah kendala kami saat ini makanya penjualan kami keluar kurang, karena belum memiliki label halal, dulu sempat juga mengikuti pelatihan dan diberitahu apa yang harus dilengkapi tapi sampai sekarang belum ada hasilnya apalagi katanya harus di urus di Medan dan biayanya lumayan besar,” keluhnya, Jum’at (14/01/2022).

Untuk itu harapan mereka melalui dinas terkait agar UKM-UKM di kota Gunungsitoli bisa lebih diperhatikan lagi, salah satunya dengan membantu memfasilitasi label halal agar produk mereka bisa diminati masyarakat Indonesia melalui market place.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar