Pelatihan Sensivitas Gender Untuk Penasehat Perkawinan Adat di Nias

kbrn_29. Pelatihan Sensivitas Gender jpg

KBRN, Gunungsitoli: Melalui diskusi pelatihan sensivitas gender untuk penasehat perkawinan adat di Nias dan pengembangan konsep perkawinan adat yang sensivitas gender, diharapkan menghasilkan sebuah buku yang menjadi pedoman dalam memberikan nasehat perkawinan kepada para pengantin khususnya wilayah Nias dan Nias Utara kedepan.

“Kegiatan ini juga disponsori oleh PESADA, saya diminta sebagai narasumber tentang nasehat-nasehat perkawinan. Nah dari pengalaman para tokoh adat, baik di Nias dan Nias Utara ini seolah-olah ada sepertinya perbedaan derajat laki-laki dan perempuan sehingga kalau dilihat dari nasehat perkewinan contoh ya jika seorang laki-laki pada saat fanika era-era mbowo dipesankan, “Na obezi wo omou ba mbate’e boi goo iya baulu ba zinata, amania dao, na o bozi iya ba zinata, na ilau moloi ba newali boi goo iya, sitenga boo nia dao,” ungkap Eliyakim Telaumbanua Ketua LBN Kecamatan Hiliduho, Senin (29/11/2021).

Dalam nasehat tersebut, menurut Elyakim, seolah-olah mengandung kekerasan, bisa memukul.

“Jadi dengan pertemuan tokoh adat, kita mencoba untuk merevisi. Jangan kata marah, na mofonu o khe ndrongau, kata-kata seperti itu diperhalus, naso zabao dodou khe wo omou, boi wao khenia ba wonu, boi bozi iya, jadi tetap ada ketegasan tanpa mengandung unsure kekerasan,” kata Eliyakim.

Hal itu Ia sampaikan sebagai Narasumber pada Diskusi Tokoh Adat dari Nias dan Nias Utara, tentang FAMOTU Ni'owalu ba Marafule (Nasehat kepada Panganten laki-laki dan Penganten Perempuan) yang Sensitive Gender. “Apresiasi yang tinggi juga diberikan kepada Pimpinan PESADA dan segenap pihak yang telah menyelenggarakan, memfasilitasi dan mendukung sehingga kegiatan diskusi pelatihan sensivitas gender untuk penasehat perkawinan adat dapat terlaksana dengan baik,” tutup Eliyakim.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar