Vihara Dibangun sejak 1895 Silam di Gunungsitoli Bermotifkan Candi di Pulau Jawa, Masih Digunakan Sebagai Tempat Ibadah

KBRN, Gunungsitoli: Sebuah Vihara terletak ditengah kota Gunungsitoli telah ada sejak jaman penjajahan Belanda tahun 1895. Menurut izin dari surat Belanda, tapak bangunan seluas 7x 40 meter tersebut merupakan tempat beribadah orang Tionghoa.

"Pada zaman dulu, bangunan ini masih berbentuk kelenteng yang tidak begitu besar dan hanya satu lantai, bahkan diperkirakan hanya dapat menampung sekitar 40 orang saja. Sistem sembahyang pun dilakukan per orangan atau per kepala keluarga yang datang, selesai sembahyang lalu mereka pulang, dan bergantian dengan yang lain untuk datang beribadah," ujar Ketua Majelis Budhayana Indonesia Kepulauan Nias Tapak Wong, Sabtu (27/11/2021).

Pada tahun 1967, terjadi kebakaran yang cukup besar di Kota Gunungsitoli dan menghanguskan kelenteng. Kebakaran itu menghanguskan wilayah kelurahan Pasar, mulai dari lokasi Pelabuhan Lama sampai di lokasi tepi pantai daerah Taman Yaahowu sekarang ini. Atas insiatif dan gotong royong dari masyarakat Tionghoa, maka pada tahun 1968 pembangunan rumah ibadah tersebut dimulai dan selesai dibangun pada tahun 1969. Sejak itulah kelenteng berubah status menjadi Vihara.

"Peran masyarakat Tionghoa/ umat Buddha memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan pembangunan Vihara. Biaya pembangunan rumah ibadah tersebut murni berasal dari gotong royong, bahkan sampai sekarang, tradisi pembangunan vihara juga kebanyakan dari dana ummat," ungkap Tapak Wong.Sampai pada tahun 1996, bangunan Vihara yang ada dinilai kurang memadai untuk menampung kegiatan jemaat yang datang beribadat disana.

Tapak Wong  mengungkapkan, masyarakat kembali bahu membahu membangun lokasi itu. Bangunan lama bahkan diruntuhkan total, lalu didirikanlah bangunan baru berlantai III yang berdiri hingga saat ini.

"Ada banyak sentuhan baru sejak pembangunan dilakukan pada tahun 1996. Dari sisi tampilan, fasilitas seperti altar juga berbeda dari sebelumnya. Lantai I adalah ruang pertemuan, lantai II sebagai tempat beribadah, dan lantai III sebagai ruang meditasi yang dilengkapi dengan kutti/ ruang bante/ sang pandita. Terdapat pula tambahan patung Budha yang berukuran besar di lantai paling atas," katanya lagi.

Hal lainnya, sejak dibangun tahun 1996, ornament pintu gerbang depan dan belakang itu masih belum ada, tampilan ornament tersebut baru dibuat pada tahun 2007 pasca gempa. Kerusakan yang timbul akibat gempa, menginspirasi masyarakat untuk merenovasi dan membuat wajah baru pada 2 pintu gerbang Vihara. Pengerjaannya pun tidak tanggung-tanggung, mendatangkan seniman khusus dari Blitar Pulau Jawa.

"Ada satu pintu gerbang menghadap sisi jalan Sirao dan satu pintu gerbang lainnya berada di sisi jalan tepi pantai kawasan Taman Yaahowu saat ini. Motif yang ditonjolkan pada ornament pintu gerbang mencirikan agama Budha Indonesia yang pada masa dahulu berbentuk candi sebagai symbol dari agama Budha Indonesia. Jadi  sejak jaman dulu motifnya itu sama dengan candi-candi yang ada di Pulau Jawa. Hingga kini ya, pasca gempa, ada 500-600 kepala keluarga Tionghoa di kota Gunungsitoli yang menjalankan  peribadatan di Vihara yang berada ditengah kota ini," tutup Tapak Wong.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar