IDI Provinsi Gorontalo Bangun Sinergitas Bersama Kejaksaan Tinggi Gorontalo

Foto Bobi

KBRN,Gorontalo:Pengurus Ikatan Dokter Indonesia(IDI) Provinsi Gorontalo menggelar pertemuan dengan jajaran Kejaksaan Tinggi Gorontalo di Aula pertemuan kantor Kejaksaan Tinggi, Senin(15/08/2022)

Pertemuan tersebut dipimpin ketua IDI Provinsi Gorontalo Dr.A.R Mohammad diterima kepala Kejaksaan Tinggi Gorontalo Haruna.SH.MH.

Pertemuan ini bagian dari konsolidasi organisasi, membangun kemitraan setelah melaksanakan musyawarah Daerah pengurus IDI Provinsi periode 2022-2026,ungkap Abdu Rahman Mohammad

Lanjut Abdu Rahman, selain itu untuk mendapatkan masukan terkait implementasi terkait perundang-undangan yang harus menjadi pedoman terhadap pelaksanaan tugas praktek kedokteran.

“banyak hal perlu kita bermitra, kolaborasi contohnya baksos dimasa Pandemi peran Kejaksaan yang didalamnya pasti ada tenaga dokter dan tenaga kesehatan, selian itu kedepanya juga masalah pembinaan hukum kedokteran, untuk itu diawal kepengurusan kami itu yang kami prioritas, memberikan asupan pengetahuan yang bermanfaat bukanya Dokter tetapi juga seluruh tenaga kesehatan tentang apa itu hukum kedokteran dan hukum kesehatan”ujar A.R Muhammad 

Sementara itu Kepala Kejaksaan Tinggi Gorontalo Haruna mengatakan pihaknya menyabut baik hubungan kerjasama dengan IDI dan siap bersinergi.

Kejaksaan membuka seluas-luasnya bagi lembaga dan Instansi Vertikal   termasuk Pengurus Organisasi Profesi seperti IDI untuk mendapatkan informasi sekaligus konsultasi terkait dengan solusi permasalahan hukum yang dihadapi.

“banyak hal yang bisa kita kerjasamakan yang penting itu untuk kepentingan masyarakat kita siap, di kami memang untuk memberikan jasa perdata dan tata negara DATUM sesuai bidang kita disini ada, tupoksi Datum itu adalah pelayanan hukum, jadi kepada seluruh masyarakat yang mendapatkan atau ada permasalahan hukum bisa dipertanyakan disini solusinya bagaimana”jelasnya.   

Terkait dengan permasalahan yang sering dihadapi tenaga Dokter seperti Malpraktek, Haruna menjelaskan, proses penyelesainnya dilakukan kajian tidak serta merta dilakukan pengambilan keputusan karena tidak semua permasalahan tersebut menjadi kelalaian Dokter.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar