Y20 Mendorong Peran Pemuda dalam G20 Indonesia

Menparekraf Sandiaga Uno yang hadir dalam diskusi high-level panel Pra-KTT Ke-4 Y-20 secara daring, di Manokwari, Papua Barat, Sabtu 18 Juni 2022. (Foto: Beritasatu.com)

KBRN, Jakarta: Diskusi high-level panel mengenai peluang reformasi kebijakan untuk mewujudkan keberagaman dan inklusi mewarnai Pra-KTT Ke-4 Y20 di Manokwari, Papua Barat, Sabtu (18/6/2022).

Para narasumber high-level panel yang terdiri dari pembuat kebijakan serta praktis, mendorong  keterlibatan anak muda di Presidensi G20 Indonesia. Mengingat, para delegasi Y20 nantinya akan menghasilkan Communique atau rekomendasi kebijakan yang ditujukan kepada para pemimpin G20, yang menyentuh topik keberagaman dan inklusi.

Sebagaimana diketahui, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memimpin kelompok kerja G20 Tourism Working Group (TWG). Menurut Menparekraf Sandiaga Uno, pihaknya terbuka untuk bekerja sama dengan anak muda dalam mendukung pariwisata Indonesia. Hal ini mengingat 55 persen penduduk Indonesia merupakan kalangan milenial dan Gen Z.

“Jika kita ingin relevan di TWG, kita perlu terlibat dengan para pemikir muda yang sangat progresif, kreatif, inovatif, untuk memberikan masukan dan ide. Kita perlu beradaptasi, berinovasi, berkolaborasi agar bisa recover together, recover stronger, dan tentunya, recover better,” kata Sandi yang hadir secara virtual saat Pra-KTT Ke-4 Y20.

Sementara itu, G20 Indonesia Co-Sherpa mengatakan Dian Triansyah Djani mengatakan, pemerintah berharap Presidensi G20 dapat mewujudkan hasil yang konkret. Termasuk dalam memastikan pemulihan dari pandemi yang inklusif.

“Presiden menginginkan adanya deliverables yang konkret dalam bentuk proyek dan inisiatif. Di sini, anak muda bisa memainkan peran yang penting sebagai katalisator aksi untuk pemimpin G20. Kalian dapat menyuarakan ide hingga menginisiasi program dan kolaborasi,” jelas Dian.

“White paper Y20 membahas empat isu prioritas, di antaranya keberagaman dan inklusi. Pertanyaannya adalah bagaimana menerjemahkannya ke program dan proyek yang konkret,” imbuhnya.

Selain itu, Deputi V Kantor Staf Presiden Jaleswari Pramodhawardani memberikan pandangannya terkait bagaimana delegasi muda dapat memastikan rekomendasi kebijakan tidak hanya actionable (aksi nyata), tetapi juga didasarkan prinsip HAM. 

Menurutnya, anak muda perlu memiliki pemahaman terkait kesatuan, keadilan, serta prinsip perlindungan HAM. Jaleswari juga meminta para pemuda untuk memberikan kritik konstruktif (membangun), serta secara konsisten menyuarakan perlindungan HAM.

“Saya mendorong anak muda percaya diri dalam menyampaikan rekomendasi mereka maupun kritik yang didukung oleh analisis mendalam. Kritik yang membagun tidak hanya bagian dari proses demokrasi, tetapi juga mengingatkan pemerintah agar terus menjalankan upayanya dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa,” jelas Jaleswari.

Dalam kesempatan yang sama, Pendiri Wahid Institute Yenny Wahid, mengapresiasi kreativitas anak muda serta kepeduliannya terhadap masyarakat. 

Dirinya menilai, berbeda dengan generasi sebelumnya, anak muda saat ini lebih kreatif dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Seperti media sosial atau platform lainnya.

“Saya mengapresiasi Y20 karena telah memberikan anak muda sebuah ruang untuk mengutarakan pendapat. Mereka adalah motor pembangunan tidak hanya untuk di kemudian hari, tetapi juga yang sekarang,” jelas Yenny.

Pemuda memiliki kekuatan, keinginan, pengetahuan, dan keahlian untuk mendorong reformasi kebijakan yang lebih inklusif untuk keberagaman dan inkulsi.

Diketahui, puluhan delegasi muda dalam negeri maupun luar negeri hadir di Pra-KTT Ke-4 Y20. Ini juga menjadi pertama kalinya Y20 mengangkat isu keberagaman dan inklusi sebagai standalone policy track. 

Adapun Pra-KTT Ke-4 Y20 terbagi menjadi dua sub-tema pendidikan inklusif dan ekonomi kreatif.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar