FOKUS: #G20

Palestina Tak Ragukan Komitmen Indonesia dalam G20

Duta Besar Palestina di Jakarta Zuhair Al Shun menyatakan, pihaknya tidak meragukan komitmen Indonesia yang terus menyuarakan dan mengangkat isu mengenai perjuangan rakyat Palestina di G20. (Foto:RetnoMandasari/RRI)

KBRN, Jakarta: Indonesia telah memulai tugasnya sebagai Ketua G20 sejak 1 Desember 2021 sampai 30 November 2022 mendatang.

Di dalam keketuannya itu, Indonesia turut menyuarakan aspirasi dari negara-negara berkembang maupun konflik seperti Palestina.

Duta Besar Palestina di Jakarta Zuhair Al Shun menyatakan, pihaknya tidak meragukan komitmen Indonesia yang terus menyuarakan dan mengangkat isu mengenai perjuangan rakyat Palestina di G20.

“Tentu saja Indonesia selalu membahas dan mengangkat isu Palestina di urutan teratas, dimanapun itu dalam regional, diskusi internasional atau isu bilateral antar negara, Palestina selalu terwakili dengan kuat di kalangan masyarakat dan para pemimpin diplomatik Indonesia. Tidak diragukan lagi,” ucap Zuhair ketika ditemui RRI.co.id di sela-sela peringatan 57 tahun Gerakan Nasional Pembebasan Palestina (Fatah) di Kedutaan Besar Palestina, Jakarta, Senin (10/01/2022).

Selain memberikan apresiasi, Zuhair mengatakan, dengan dibahasnya isu mengenai Palestina, turut membantu terkumpulnya dukungan agar tercapainya kemerdekaan dari tangan zionis Israel.

BACA JUGA: Dubes Palestina Tanggapi Rumor Diplomasi RI-Israel

“Kami mencari lebih banyak dan lebih banyak dorongan untuk mencapai proses perdamaian itu,” tegasnya.

Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri, Indonesia telah memberikan bantuan pembangunan kapasitas bagi rakyat Palestina selama 30 tahun terakhir dengan 150 jenis keahlian.

Selain, pemerintah juga telah mengalokasikan USD 2 juta untuk program pembangunan kapasitas di Palestina untuk tiga tahun yang telah dimulai pada 2020.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi pada Pertemuan Sherpa Pertama G20, Selasa (07/12/2021), mengatakan, pertemuan perdana itu penting sebab membahas mengenai mekanisme kerja dari keketuaan Indonesia di G20 selama setahun.

Konsep inklusif yang dikedepankan Indonesia di dalam presidensinya di G20, juga tertuang dalam konsep pertemuan yang dikenal dengan istilah “sofa talk”.

“Mengingat pentingnya pertemuan ini, maka presidensi Indonesia telah meng-introdusir apa yang dinamakan “sofa talk”, yang akan memungkinkan para sherpa berbicara secara lebih terbuka sehingga memudahkan kerja setahun ke depan,” ungkap Menlu RI yang juga merupakan Ketua II Bidang Sherpa Track.

BACA JUGA: Presidensi G20, Dunia Melihat Kokohnya Kepemimpinan Indonesia

Dikatakan Retno, dunia memiliki harapan terhadap G20 untk dapat memimpin pemulihan global dengan menghasilakan solusi konkret.

Menlu RI menambahkan Indonesia meyakinkan dunia selama keketuannya di G20 menjadikan inklusifitas sebagai kunci.

“Saya sampaikan bahwa G20 harus menjadi katalis bagi pemulihan global yang kuat, inklusif dan sustainable. Inclusiveness menjadi kunci. Oleh karena itu, saya sampaikan bahwa isu inclusiveness ini sangat terrefleksi dari tema besar keketuaan Indonesia, yaitu “recover together, recover stronger”,” tegasnya.

Indonesia melanjutkan Presidensi G20 setelah Italia, yang sebelumnya dijabat oleh Arab Saudi pada 2019 lalu.

Dengan mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger”, Indonesia memastikan mengedepankan inklusifitas selama presidensi di G20.

Setidaknya terdapat tiga hal yang menjadi visi Indonesia dalam presidensinya.

Yaitu, untuk pemulihan krisis global yang inklusif dan berkelanjutan, refleksi kepercayaan internasional atas kepemimpinan Indonesia, serta amanah dan tanggung jawab untuk memimpin dunia di masa sulit.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar