Rakor Percepatan Eliminasi Malaria Tingkat Kabupaten Nagakeo Tahun 2022

KBRN, Ende : Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo menggelar Rapat Koordinasi Percepatan Eliminasi Malaria Tingkat Kabupaten Nagekeo Tahun 2022 bertempat di Aula Hotel Pepita, Rabu, 10 Agustus 2022. Kegiatan tersebut dibuka dengan resmi oleh Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do didampingi Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Nagekeo Drs.Imanuel Ndun, M.Si dan Acep Efendi, SKM, M.Kes (Dinas Kesehatan Provinsi NTT).

Bupati Don dalam sambutannya meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo menyajikan data  terkait  materi Surveilance Vektor dan Percepatan  Eliminasi Malaria yang akan disampaikan sehingga nantinya memudahkan para pimpinan wilayah mengambil langkah tindakan praktis dan memotivasi kerja-kerja ke depan.

“Supaya bisa tahu kenapa kita sampai dengan saat ini, kita bisa menekan angka Malaria mendekati Nol,” kata Bupati  Don.

Hal tersebut lanjut Bupati Don agar para pengambil kebijakan bisa mengetahui apa yang dikerjakan dalam tahun – tahun  terakhir sampai Nagekeo bisa menekan kasus Malaria.

“Apakah hanya dengan  pembagian kelambu (yang kita lihat banyak kelambu itu salah pakai artinya dipakai tidak sesuai dengan peruntukannya). Saya juga masih temukan orang yang mukanya pucat khas malaria. Apakah dia tidak bergejala  dan tidak datang ke fasilitas kesehatan sehingga dia tidak diperiksa, tiba tiba kita malaria tidak ada juga, ini kan repot,”tambahnya.

Bupati berharap rapat koordinasi ini menghasilkan langkah tindakan praktis yang dapat diambil. Menurutnya ada dua basis data  yang bisa dilakukan melalui basis masyarakat dan basis Fasilitas. Melalui basis masyarakat ini, para Camat bisa berkoordinasi dengan Para Kepala Desa /Lurah terintegrasi PKK ( Dasawisma dan RT) serta organisasi kepemudaan lainnya, OMK, Karang Taruna,  Remaja Masjid. Sedangkan terkait basis fasilitas menurutnya adalah angka yang didapatkan saat  kunjungan ke fasilitas kesehatan.

“Sehingga apa yang kita dapatkan di sini itu adalah angka yang institusional rate mana yang kita pergok ketika dating dengan gejala ke fasilitas kesehatan atau memang yang kita lakukan dengan datangi melalui PIS PK ( Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga) dengan ambil sampel,”jelas Bupati Don.

Diakhir sambutan Bupati Don berharap agar kegiatan ini tidak berakhir disini tetapi apa yang dilakukan kedepan adalah perlu diperkuatnya basis masyarakat.

“Satu hal yang saya pingin ada langkah tindakan yang praktis. Saya harap tidak berhenti disini, ini bukan acara biasa biasa saja. Ini mengulang, review yang sudah kita tahu sampai dimana dan apa yang kita lakukan kedepan supaya program kita ini betul-betul tidak ada yang lewat,  kita perlu perkuat basis masyarakat,”tutupnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo Laurentius Yustinus Ndoa, S.Sos dalam laporan panitianya mengatakan bahwa Rakor Percepatan Eliminasi Malaria bertujuan untuk meningkatkan kerjasama  lintas sektor dalam upaya Percepatan Eliminasi Malaria dan Pemeliharaan Setelah Eliminasi Malaria.

“Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk Tim Persiapan Percepatan dan Pemeliharaan Eliminasi Malaria yang melibatkan lintas sektor, adanya kerja sama lintas batas kabupaten (task force) yang berseberangan dalam pengendalian malaria serta untuk mendapatkan sertifikasi Eliminasi Malaria dari Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2023,”katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa sesuai dengan peta jalan strategi Eliminasi Malaria Wilayah Nusa Tenggara Timur ditargetkan pada tahun 2024 mencapai eliminasi Malaria disemua Kabupaten/Kota. Kabupaten Nagekeo ditargetkan  pada Tahun 2022 mencapai eliminasi Malaria.

Tahun 2019 terdapat 9 kasus Indigenous tersebar di  Wolowae 3 kasus, Boawae 1 kasus, Mauponggo 2 kasus, Aesesa 3. Untuk Kasus Import tersebar di Kecamatan Boawae sebanyak 2 kasus. Tahun 2020 terjadi peningkatan kasus sebanyak 5 kasus impor Papua tersebar di wilayah kecamatan Boawae 1 kasus, Mauponggo 2 kasus dan Kecamatan Aesesa Selatan sebanyak 2 kasus” jelasnya.

Sedangkan pada Tahun 2021 tidak ada kasus impor maupun indegenous, kemudian untuk Tahun 2022 per keadaan Bulan Juni kembali ditemukan sebanyak 4 kasus  impor yang tersebar di wilayah kecamatan Keo Tengah  1 kasus ( Sumba) dan Kecamatan Mauponggo sebanyak 3 kasus ( Papua).

Ditambahkan Laurentius, Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kesakitan dan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak balita, dan ibu hamil. Selain itu, malaria secara langsung menyebabkan anemia dan dapat menurunkan produkifitas kerja. Oleh karena itu, program malaria masih menjadi prioritas ditingkat nasional maupun global.

“Untuk menekan kasus Indegenous (penularan setempat) maka perlu dilakukan kerja sama lintas sektor dan dan lintas batas bersama petugas kesehatan demi memutus rantai penularan malaria di Kabupaten Nagekeo” harapnya.

Adapun Narasumber pada kegiatan rakor ini Acep Efendi, SKM, M.Kes (Dinas Kesehatan Provinsi NTT); Dece Mery Pai, SKM, M.Kes (Unicef Perwakilan NTT),  drg. Ellya Dewi, MPH (Rotary Against Malaria untuk  Pulau Flores).

Materi yang diberikan kepada para peserta antara lain Surveilance Vektor dan Strategi Percepatan Eliminasi Malaria Tahun 2022  dan Peran Lintas Sektor dalam Percepatan dan Pemeliharaan Eliminasi Malaria  dan metode yang digunakan dalam rakor ini adalah ceramah, diskusi  dan tanya jawab.

Peserta sebanyak 45 orang terdiri dari Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Nagakeo, Bagian Kesra, Dinas PMD- P3A, Bapelitbangda, Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata, Para Camat, RSUD Aeramo, Para Kepala Puskesmas, Balai Pengobatan Swasta, dan Petugas Surveilence serta Para pengelola program malaria.

Sumber : nagekeokab.go.id/ Merry

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar