Viktor Laiskodat : Bulog NTT Diharapkan Menjadi Pusat Logistik Kelor Terbesar Di Indonesia

KBRN, Ende : Pemerintah Provinsi NTT dan seluruh elemen masyarakat terus berupaya untuk mengatasi stunting yang kini tersisa 22% dari sebelumnya tahun 2018 bertengger di 43%. Oleh karena itu Bulog NTT diharapkan dan didorong untuk menjadi salah satu pilar utama logistik kelor terbesar di Indonesia sebagai kerja konkret bagi rakyat NTT dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Harapan tersebut dikemukakan Gubernur NTT, Dr. Viktor Bungtilu Laiskodat, S.H., M.Si, dalam arahannya pada pertemuan dengan jajaran petinggi Bulog NTT bersama  para pejabat Dinas Kesehatan NTT, di ruang kerja gubernur, Kamis (23/6/2022) . Dikatakan Gubernur Viktor, jika Bulog sanggup melakukan hal itu, maka dapat dipastikan NTT akan segera keluar dari lilitan belenggu kemiskinan dan terutama kasus stunting akut yang dialami masyarakatnya.

“ Stunting yang dialami masyarakat NTT, utamanya disebabkan oleh multifaktor, tetapi salah satu faktor dominan ialah karena problem kesehatan masyarakat masih terbatas. Tambahan lagi akses rakyat terhadap informasi, dan aneka sumberdaya ekonomi juga masih sangat terbatas,” ungkap Gubernur Viktor.

Menurut Gubernur Viktor, kelor telah dikenal dunia sebagai pohon ajaib (miracle tree) yang menyimpan dan mengandung banyak manfaat positif bagi kepentingan kesehatan manusia. Kelor itu tumbuh liar sejak lama di NTT. Tetapi, masyarakat belum mengetahui pasti kegunaannya untuk kepentingan kesehatan dan pertumbuhan otak manusia.

“Maka sejak kepemimpinan Viktor Jos, kelor wajib dimasifkan agar NTT menjadi pusat logistik kelor terbesar di tanah air,” ujar Gubernur Viktor.

Kelor atau dikenal dengan sebutan merungga adalah sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae. Tumbuhan ini dikenal dengan nama lain seperti, limaran, moringa, ben-oil, drumstick, horseradish tree, dan malunggay di Filipina. Nama ilmiahnya Moringa oleifera.

“ Pohon kelor itu banyak tumbuh di pesisir selatan Pulau Timor, juga tumbuh di Pulau Rote, Sabu, Alor dan pesisir Flores. Meski tanaman kelor ini memang masih belum sungguh masif ditanam karena masih terbatasnya kesadaran banyak pihak, tetapi gerakan kearah masifikasi itu telah tumbuh berkembang seiiring dengan sosialisasi yang dilakukan pemerintah.  Kalangan militer angkatan darat, misalnya, telah gigih memperjuangkan masifikasi perluasan lahan tanaman kelor karena sangat tahu persis kegunaannya bagi kesehatan manusia, dan juga disadari manfaat ekonomi yang ditimbulkannya,” tegas Gubenur Viktor.

Di dunia ini, salah satu negara yang cukup masif menanam kelor lanjut Gubenur Viktor, adalah Filipina. Di lokasi destinasi wisata Hawai, warga Filipina menanam kelor dan di  setiap pekarangan rumah warga  Filipina selalu ada pohon kelor.

Kabulog NTT, Mohammad Alexander sendiri  berencana menggunakan kelor sebagai bahan campuran untuk beras unggul yang diproduksi lembaganya. Beras akan dicampur kelor sehingga bermanfaat bagi kepentingan para konsumen, ujar M. Alexander.

Dikatakan Alexander, dengan melihat pengalaman di negara lain tersebut, NTT mestinya relatif lebih mudah memasifkan penanaman kelor. Hingga kini, kelor telah dikelola menjadi the kelor, coklat kelor, kue kelor, keripik kelor. Meski demikian tatakelola kelor belum maksimal sebagaimana diharapkan gubernur, akibatnya banyak permintaan dari negara lain belum sanggup dipenuhi.

Hadir pada kesempatan itu antara lain, Kadis Kesehatan NTT, Ruth Laiskodat beserta staf intinya, Staf Khusus Gubernur dr. Stef Bria Seran, dan Pius Rengka.

Sumber berita : Humas Setda Prov. NTT

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar