Tak Ada Katalis Positif, Rupiah Turun 19 Poin dalam Penutupan Perdagangan
- 02 Sep 2026 21:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,11 persen atau 19 poin ke posisi Rp17.763 per dolar AS.
- Tekanan geopolitik membuat rupiah makin melemah. Termasuk spekulasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga the Fed
- Di dalam negeri, laporan inflasi BPS mencatat harga komoditas pangan melonjak tajam pada Agustus 2026 akan menjadi beban bagi daya beli masyarakat
RRI.CO.ID, Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,11 persen atau 19 poin ke posisi Rp17.763 per dolar AS.
Tekanan geopolitik membuat rupiah makin melemah. Termasuk spekulasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga the Fed.
“Militer AS dan Iran saling serang menyebabkan konflik semakin meluas. Sehingga berimbas pada naiknya harga minyak mentar dunia,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Rabu 2 September 2026.
Sementara itu, retorikas ketua the Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole mendorong spekulasi kenaikan suku bunga. Perangkat CME FedWatch Tool menunjukkan sekitar 65 persen kemungkinan kenaikan suku bunga bulan ini.
Peluang tersebut naik dari 40 persen pada minggu lalu. The Fed sendiri akan melakukan pertemuan rutin pada tanggal 15-16 September 2026.
Spekulasi the Fed akan menaikkan suku bunga bulan September ini makin kuat, setelah pernyataan Gubernur Fed Michael Barr . “Barr mengingatkan, jika inflasi tidak segera melambat, saatnya untuk menaikkan suku bunga,” ucap Ibrahim mengutip pernyataan Barr.
Di dalam negeri, Ibrahim mencermati laporan inflasi BPS yang mencatat harga komoditas pangan melonjak tajam pada Agustus 2026. Kenaikan harga akan menambah beban bagi daya beli masyarakat.
BPS mencatat inflasi umum pada Agustus 2026 sebesar 0,21 persen, naik dibandingkan bulan Juni yang mengalami deflasi 0,14 persen. Sementara secara tahunan, BPS melaporkan inflasi mencapai 3,19 persen atau meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 2,88 persen.
Tekanan inflasi diimbangi oleh surplus perdagangan bulan Juli, ditopang kinerja ekspor yang melampaui ekspektasi. Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia yang baru dilantik, Destry Damayanti, memproyeksikan pertumbuhan PDB tahun 2027.
Menurut Destry, pertumbuha PDB Indonesia tahun depan berada di kisaran 5,2–6 persen. Sedangkan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.300–17.800 per dolar AS dan inflasi tetap di sasaran 2,5 persen plus minus 1persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....