Kenaikan Harga Bawang Putih Bikin Pedagang Cemas

Bawang Putih

KBRN, Jakarta: Sudah hampir empat tahun gejolak harga bawang putih terus berulang, setiap awal tahun harga bawang putih mengalami gejolak. Tahun ini pun seperti sama, meski sebelumnya diklaim oleh ketua Pusbarindo, Valentino, bahwa stok bawang putih sampai Maret tetap aman karena stok masih ada 175.000 ton.

Menanggapi kenaikan harga yang selalu berulang di Februari sampai April, Valentino menilai hal itu sudah menjadi fenomena yang biasa terjadi.

"Untuk menghindari itu, kami mengusulkan supaya ada transparansi dalam hal penerbitan Rekomendasi Impor Produk Holtikultura  (RIPH) dan Surat Persetujuan Impor (SPI)," ujarnya, Selasa (9/2/2021). 

Menurutnya, semakin cepat dikeluarkannya RIPH dan SPI, bagi Pusbarindo semakin senang. 

"Kalaupun terjadi kenaikan harga biasanya yang mempermainkan adalah dari pihak distributor dan pedagang. Kalau sampai Maret SPI belum keluar biasanya mereka itu menaikkan harga. Jadi kalau SPI keluar cepat tidak ada puter jalur bagi distributor dan pedagang untuk naikkan harga," tambahnya.

Sementara, Umar Anshori - Ketua Forum Komunikasi Pengusaha dan Pedagang Pangan, saat dikonfirmasi membantah jika distributor yang menaikkan harga. Sebab, kenaikan harga bawang putih setiap awal tahun dikarenakan harga beli dari importir yang mahal, sehingga pedagang menjual ke konsumen akhir dengan hargal tinggi juga. 

"Selama ini yang selalu tertuduh dan dijadikan kambing hitam kan pedagang jika harga bawang putih naik. Bahkan, pedagang yang sering kena razia satgas pangan. Padahal ketika barang tidak ada, pedagang rela antri dari subuh untuk mendapatkan bawang putih, itupun jumlahnya dibatasi hanya satu sampai dua sak per orang seperti kejadian tahun lalu," jelas Umar. 

Hal senada disampaikan oleh Wandi, salah seorang pedagang bawang putih di Mojosari.

“Kalau dibilang kami menaikkan harga bawang putih adalah salah besar. Kemarin aja hari Senin saya mau beli bawang putih sama importir harganya sudah sudah 18.250 rupiah per kilo, padahal distributor masih jual eceran di harga yang sama. Akhirnya distributor mau tidak mau harus menjual di atas 18.250 per kilo supaya ada keuntungan. Minimal harus menjual 18.500 rupiah, jadi cuma ambil untuk 250 rupiah, itu pun harus menutupi ongkos dan biaya penyusunan. Laling kami hanya ambil keuntungan 100 rupiah per kilo,” jelasnya. 

Bagi pedagang, dengan adanya peraturan pemerintah yang membuat keterlambatan impor bawang putih, yang diuntungkan adalah negara yang memproduksi (China, red). Karena begitu China mengetahui izin dikeluarkan sekian ribu ton, tiba-tiba di China harga naik.

"Situasi seperti ini dimanfaatkan oleh China dan importir untuk memainkan harga," jelas Wandi. 

Ia menuturkan, beda dulu ketika tidak ada izin, pihak eksportir tidak bisa memainkan harga karena tidak tahu jumlah yang harus diimpor. Demikian juga importir tidak bisa lagi karena banyak pihak yang mengimpor bawang putih, jadi harga bisa bersaing. Tidak seperti sekarang hanya beberapa gelintir importir saja yang dapat izin, sehingga mereka mudah menguasai harga. 

Sebelumnya, Deputi Bidang Kajian dan Advokasi KPPU, Taufik Ariyanto sudah mengendus potensi kenaikan harga bawang putih di bulan Maret, April dan Mei. Pasalnya, selama lima tahun terakhir konsisten terjadi kenaikan harga di setiap tiga bulan tersebut. Selama ini, kenaikan bawang putih di pasar terjadi karena keran impor selalu telat dibuka, padahal konsumsi per tahunnya bisa diprediksi.

"Karena itu, KPPU merekomendasikan Kemendag dan Kementan untuk mempermudah perizinan impor bawang putih di dalam negeri. Selama ini kebutuhan bawang putih memang dipasok dari impor karena kebutuhan belum bisa dicukupi oleh petani dalam negeri," tandasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00