Sengkarut Data BST, Dinsos Tangsel Sebut Dinamika

Ilustrasi

KBRN, Tangerang Selatan : Data penerima Bantuan Sosial Tunai (BST) di Kota Tangerang Selatan atau Tangsel carut-marut. Pasalnya, mulai terdapat identitas ganda penerima juga pindah domisili serta meninggal dunia.

Kepala Dinas Sosial Kota Tangsel Wahyunoto Lukman mengatakan, memang ditemukan adanya ribuan data ganda penurima BST dan harus segera diperbaiki.

“Harus diperbaiki, mulai dari adanya data ganda hingga data penerima yang sudah meninggal dunia,” ungkapnya kepada rri.co.id, Kamis (21/1/2021) malam.

Data tersebut ditemukan, sambung Wahyinoto, saat proses penyaluran belum rampung dan masih berjalan. “Angka yang sudah tersalur dari total 90.173 KK (Kepala Kekuarga, Red) itu, lebih kurang 70.200 sekian. Jadi sudah sekitar 85 persen," terangnya.

Wahyu mencatat, setidaknya terdapat lebih dari 7.000 data. Salah satunya, yakni adanya data penerima ganda. “Ada persoalan, memang ada data ganda dalam satu keluarga. Contohnya, ada beberapa anggota keluarga yang mendapatkan. Tetapi sudah kita informasikan ke pada PT POS agar diberikan kepada satu orang saja, kepada keluarganya atau kepala keluarganya saja," terang Wahyu. 

Selain data ganda, Wahyu juga menemukan data lain yang harus diperbaiki, mulai dari data warga yang sudah meninggal dunia, hingga data penerima yang sudah pindah tempat tinggal. 

"Jadi bukan hanya data ganda saja. Total yang harus diperbaiki, diantaranya data penerima yang meninggal, yang pindah, dan ada yang perubahan NIK. Sehingga yang terdaftar masih pakai NIK dan data yang lama. Itu data-data yang harus kita perbaiki, lebih kurang ada sekitar 7000-an," paparnya. 

Kendati demikian, Wahyunoto menampik jika data tersebut bermasalah, melainkan hanya dinamika. “Data itu jangan disebut data bermasalah, tapi data dinamika. Seperti, kemarin dia terdata ada, hari ini meninggal. Jadi jangan disebut masalah, tapi namanya dinamika. Kemarin dia tinggal di kelurahan A, sekarang pindah, itu bukan bermasalah," pungkasnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, dalam pendataannya, dua jenis  sumber data.  Pertama, data diambil melalui sumber valid yang berasal dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial atau DKTS, dan data non-DTKS.

"Data non-DTKS itu data yang diusulkan secara berjenjang mulai dari tingkat Ketua  RT (Rukun Tetangga, Red), hingga Dinas Sosial. Yang kedua, data DTKS ini yang punya 46 variabel dengan dinamikanya, seperti warga yang pindah, meninggal, dan lain-lain," tuntasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00