Pandemi Covid-19, Kebijakan Larangan Plastik Dikritisi

KBRN, Jakarta: Selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di masa pandemi Covid-19, produksi plastik justru meningkat 100 persen. Hal ini disebabkan karena selama PSBB rumah makan dan restoran dilarang makan di tempat.

Selain itu, kebijakan larangan plastik dinilai harus ditinjau ulang.

“Selama pandemi produksi plastik meningkat dua kali lipat dan menambah kapasitas 100 persen. Peningkatan saat pandemi sangat meningkat. Saya menambah mesin, dan sekarang peningkatannya cukup fantastis dalam pandemi itu. Sekarang itu serba take away. Selain itu pelarangan penggunaan plastik tidak berkaitan dengan lingkungan, namun terkait manajemennya,” kata Direktur Kemasan Group, Wahyudi Sulistya dalam webinar bertema “Apakah Single Use Plastic Ban Merupakan Solusi dari Masalah Lingkungan di Indonesia?”, Selasa (29/9/2020).

Wahyudi menjelaskan, hingga saat ini belum ada pengganti plastik, dan mulai hari ini harga plastik meroket terus.

“Saat PSBB sekarang ini semua harus take away dan tidak boleh dimakan di tempat. Kalau ada pengganti plastik yang menggunakan spunbond bag itu adalah bahannya plastik juga,” terangnya. 

“Bila kita buka rak-rak kita di rumah, semua bahannya menggunakan plastik. Kalau tidak menggunakan plastik, maka bahan makanan tidak akan tahan lama,” ucap Wahyu di. 

Ia mengungkapkan, pelarangan plastik tidak perlu terjadi bila manajemennya dilaksanakan dengan baik. Sebab plastik masih punya nilai, termasuk bisa didaur ulang dan dipakai kembali.

“Plastik yang ramah lingkungan dan bisa didaur ulang, dan bisa nilai ekonomis tinggi. Kalau pelarangan ini karena penumpukan sampah, itu bukan masalah. Itu hanya miss management yang bermasalah,” tuturnya. 

Intinya, penyelesaian masalah sampah harus diselesaikan dari hulu ke hilir.

Ketua Umum Ikatan Pemulung Indonesia Prispolly Lengkong mengatakan, pelarangan penggunaan plastik akan menggangu mata pencaharian pemulung. Dan SDM dari pemulung itu rendah. Selain itu, ikatan pemulung melakukan konsolidasi di tengah pandemi Covid.

“Pemulung bisa langsung ngepress dan menggulung plastik yang harganya bisa dijual dengan lebih mahal,” ucapnya.

Regulasi pemerintah yang melarang penggunaan plastik itu, salah. Lalu, pemakaian plastik di mal dan supermarket juga dilarang, itu tentu menggangu pendapatan pemulung.

Ia pun mendukung penggunaan plastik sekali pakai. Karena bila plastik dipakai sekali, itu bisa meningkatkan penghasilan pemulung.

Sementara praktisi Medis Kardiana P. Dewi S mengatakan, saat pandemi kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia berubah semua. Virus corona, jelasnya, strukturnya memiliki amplop dan ada strukturnya.

“Virus Corona memiliki struktur luar yang merupakan lapisan lemak. Lapisan luar lemak rentan terhadap pencucian air dengan sabun dan disinfektan. Corona di benda mati bisa tahan lama, bahkan di medical mask itu tujuh hari bertahan,” ucapnya.

Jadi, terangnya, di masa pandemi hal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan hegienitas dan perlu ditingkatkan kewaspadaan diri.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00