Polemik Garam di Madiun Temui Jalan Buntu

Foto: ist

KBRN, Madiun: Kelebihan suplai garam masih menjadi permasalahan yang perlu mendapat perhatian khusus. Berdasarkan data yang diperoleh dari Direktur utama PT garam, Achmad Didi Adiyanto, diprediksi akan ada overstock garam sebesar 500 ribu kwintal atau setara 0.5 juta ton.

"Serapan garam dari industri maupun konsumsi itu kurang sekali karena memang di tahun lalu kita punya sisa stok itu ada 2.5 juta ton, pemakaian 4.4 juta ton, produksinya 2.9 juta ton lalu import juga 2.9 artinya udah pastilah sekarang ini kita over suplai garam," kata Achmad, Kamis (17/9/2020).

Kondisi ini diperparah dengan rendahnya harga jual garam yang jauh dibawah harga produksi.

Menurut Achmad, perlu ada upaya penganekaragaman produk serta regulasi pemerintah yang mengatur agar penyerapan tetap bagus serta harga tetap stabil.

"Seandainya dengan over supply begini pemerintah tetap menjaga agar penyerapan tetap bagus, ada regulasi dan yang paling penting dibuat stabilisasi harga garam," ujarnya.

"Karena ketika harga garam jatuh di bawah harga pokok produksinya sudah pasti petani garam enggan untuk bertani garam karena tidak punya keuntungan. Kalau harga garam terlalu tinggi juga tidak bagus untuk industri maupun konsumen karena kemungkinan tidak akan mau membeli garam yang mahal, otomatis beli garam impor," paparnya.

Menjawab permasalahan tersebut pembina Koperasi Induk Garam Nasional Benny Suharsono memaparkan, saat ini pihaknya telah menggandeng para petani garam untuk berinovasi menganekaragamkan produk garam dan menyasar segmen-segmen yang selama ini luput dari pantauan petani garam lokal.

"Kami mencoba untuk mengajak masyarakat petambak garam untuk mulai memikirkan garam-garam yang lain. Melalui diversifikasi produk karena masih ada segmen-segmen pasar lain. Petani-petani memproduksi garam dengan kualitas tertentu, memperhatikan kualitas kristal garam, umur garamnya dan peruntukannya," ungkapnya.

"Sebagaicontoh yang berkaitan dengan kebutuhan pandemi covid kalau kita bisa memanfaatkan, garam bisa lho untuk pencegahan, hanya dengan berkumur setiap pagi bangun tidur. Garam-garam yang kualitas bagus bisa dipakai," jelasnya.

Benny menambahkan, untuk meningkatkan produktivitas petani garam dilakukan upaya integrasi lahan antar petani garam yang memiliki lahan sempit. Selain mempermudah dalam penyeragaman kualitas garam, juga mempermudah dalam pendataan.

Sejauh ini Koperasi Induk garam berhasil mengintegrasikan agar petani mencapai luasan lahan minimal 15 hektar per area. Disisi lain terdapat total 1.600 koperasi yang sudah tergabung.

Kesadaran dan gerak bersama ini menurut Benny swasembada garam bukanlah hal mustahil, terbukti dengan dua tahun terakhir produktivitas dan kualitas meningkat signifikan. Sehingga garam dalam negeri sangat potensial untuk manjadi komoditi ekspor.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00