Resesi, Sri Mulyani Bidik Kalangan Menengah Atas

Ilustrasi resesi ekonomi Indonesia.(Dok.Ist)

KBRN, Jakarta: Resesi global saat ini telah menjadi ancaman 162 negara di dunia. Sedangkan, prediksi Indonesia melewati resesi ekonomi nampaknya sulit meraih angka postif, apalagi menghindari resesi skala nasional. 

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani juga telah menyatakan, Indonesia tidak dapat menghindari resesi ekonomi lantaran pertumbuhan ekonomi Kuartal ke-III masih diperkirakan negatif.

"Kalau melihat perkembangan di bulan Juni, downside risk-nya tetap menunjukkan suatu risiko yang nyata. Jadi, untuk kuartal ketiga, outlook pertumbuhan ekonominya adalah nol hingga negatif 2 persen," kata Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (25/8/2020).

Sedangkan, lanjut Sri, untuk keseluruhan tahun pertumbuhan ekonomi Indonesia itu adalah antara minus 1.1 hingga positif 0.2 persen.

Sri mengatakan, kunci mengatasi resesi sekarang  berada pada tingkat konsumsi dan investasi. Sebab, kata dia, bilamana dua elemen itu sekarang masih berada di Zona Negatif, meskipun pemerintah sudah mengerahkan belanjanya, akan sulit bagi perekonomian Indonesia untuk masuk dalam zona nol persen di tahun 2020 ini.

"Jadi, akan kita lihat apakah di kuartal ketiga dan keempat nanti. Apakah tingkat konsumsi dan investasi akan kembali ke di zona netral? Paling tidak, di nol persen, itu sangat berarti," kata Sri.

Demi mendorong tingkat konsumsi, pemerintah diakuinya sudah menggelontorkan bantuan sosial (Bansos) untuk masyarakat kelas bawah.

Melalui upaya tersebut, dia mengklaim, terjadi kenaikan belanja pemerintah cukup tinggi untuk bansos dengan pertumbuhan hingga Juli 2020 belanja untuk bansos mencapai Rp170 triliun.

"Atau tumbuh 55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tapi, untuk meningkatkan konsumsi tidak bisa hanya mengandalkan bansos saja sebagai daya ungkit ekonomi," tegas Sri.

Dia juga menjelaskan berbagai upaya lain dari belanja pemerintah, selain bansos.

"Tingkat konsumsi masih akan negatif, kalau konsumsi kelas menengah atas belum pulih. Jadi, dalam hal ini consumer confidence menjadi penting, agar kelas menengah atas ini mau kembali melakukan belanja konsumsi," klaim dia.

Sri juga memastikan, pemerintah akan mengerahkan semua instrumen yang ada demi mengembalikan keyakinan berinvestasi, maupun berkonsumsi.

"Terutama bagi masyarakat menengah atas," kata dia.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar