Harga Karet Naik, Permintaan Masih Kurang

Getah pohon karet/ Istimewa

KBRN, Palangka Raya: Salah satu komoditas unggulan Kalimantan Tengah yakni karet mulai mengalami kenaikan harga. Dari sekitar 1.11 USD pada akhir Juli, saat ini harga karet SIR 20 sekitar 1.23 USD.

Sekretaris Eksekutif (Gabungan Perusahaan Karet Indonesia) Gapkindo Kalselteng, Hasan Yuniar, mengatakan kenaikan harga sekitar 6 persen tersebut seiring dengan drastisnya permintaan dari negara Tiongkok.

“Seluruh anggota kita di Kalteng kita berharap semua produk petani diterima apalagi milik petani dan UPTB (Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan olah karet) terutama UPTB Pulpis, atau KUBK (Kelompok Usaha Bersama Karet) di Palangka Raya, termasuk yang ada di Kapuas, Buntok juga. Itu harus diterima lah oleh serikat,” ujarnya kepada RRI, Kamis (6/8/2020).

Hasan mengatakan kenaikan harga karet tentu dirasakan juga dampaknya oleh petani. Dari sebelumnya harga karet berkisar Rp4 ribu rupiah per kilogram sekarang di kisaran Rp5 ribu sampai Rp8 ribu per kilogramnya.

Mulai bergeraknya home industry di Cina setelah hantaman pandemi Covid-19, lanjut Hasan, turut mempengaruhi penjualan karet di Kalimantan Tengah. 

Namun demikian, Sekretaris Gapkindo Kalselteng ini mengakui bahwa meskipun harganya naik, jumlah permintaan masih terbilang kurang. Hal itu terjadi karena negara-negara pembeli karet dari Kalteng seperti Italia dan India yang turut dilanda pandemi Covid-19 belum ada permintaan.

Sementara itu, menurut Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, harga karet yang bagus bagi petani di kisaran 9 ribu-10 ribu rupiah.

“Nah kalau untuk slab yang biasa dijual oleh petani mungkin sekitar 5-6 ribu kisarannya. Memang sangat rendah. Yang bagus itu harga di tingkat petani itu harga sekitar 9-10 ribu untuk slab,” tutur Rawing.

Guna memastikan roda perekonomian terus berputar, Kadisbun Kalteng ini menambahkan Pemprov Kalteng telah menyurati pemerintah maupun perusahaan di kabupaten/kota agar tetap menjalankan pekerjaan seperti biasa.

“Kita harus bekerja seperti biasanya, tentunya jangan melupakan protap atau protokol kesehatan dari Covid. Nah tapi kalau ke kebun saya rasa lebih sehat punya aktivitas sehingga daya imun kita lebih tinggi. Namun kalau banyak kontak dengan orang lain, harus dijaga kebersihan kita, pasang masker dan sebagainya,” pungkas Rawing Rambang.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00