Singapura Resesi Ekonomi, Indonesia Masih Bisa Bertahan?

KBRN, Jakarta : Singapura akhirnya jatuh ke dalam resesi ekonomi setelah ekonominya mengalami pertumbuhan negatif dua kuartal berturut-turut sebagai dampak wabah Covid 19.  Di kuartal pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi Singapura minus 2,2 persen. Dan di kuartal kedua, pertumbuhan ekonomi terjun bebas ke minus 41,2 persen. Sehingga secara tahunan, perekonomian Negeri Singa itu tumbuh negatif, minus 12,6 persen. 

Mencermati apa yang dialami Singapura, Ekonom yang pernah menjabat sebagai menteri keuangan Chatib Basri meyakini, kondisi ekonomi Indonesia masih jauh lebih baik.

"Indonesia masih lebih baik karena share sektor perdagangan ke GDP relatif kecil. Jadi ketika perdagangan globalnya kena akibat wabah Covid 19, Indonesia masih bisa bertahan di ekonomi domestik," ujar Chatib Basri di Jakarta, Rabu (15/7/2020).

Mesin pertumbuhan ekonomi Singapura memang berbeda dengan Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Singapura sangat bergantung pada sektor perdagangan. Sedangkan mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah konsumsi rumah tangga. 

"Kontribusi sektor perdagangan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 30 persen. Sedangkan kontribusi sektor perdagangan pada pertumbuhan ekonomi Singapura mencapai 200 persen lebih," jelas Chatib.

Optimisme resesi ekonomi Singapura tidak akan banyak berpengaruh pada Indonesia, juga disampaikan Kepala BPS Suhariyanto.  Selama ini Singapura adalah satu mitra dagang utama Indonesia. Sampai bulan Juni 2020, BPS mencatat ekspor Indonesia ke Singapura masih mengalami peningkatan.

"Pada Juni 2020, ekspor Indonesia ke Singapura mengalami peningkatan sebesar 137,3 juta dollar. Komoditas ekspor Indonesia ke Singapura antara lain logam mulia, perhiasan dan permata, mesin dan perlengkapan listrik, serta mesin dan peralatan mekanis. Kita berharap peningkatan ekspor ke Singapura ini bertahan di bulan-bulan selanjutnya," papar Suhariyanto.

Sementara itu Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan akan tetap mewaspadai resesi ekonomi Singapura akan tidak berimbas ke Indonesia.

"Mesin pertumbuhan ekonomi kita adalah konsumsi, investasi, dan ekspor. Karenanya pemerintah menggunakan seluruh mekanisme anggarannya untuk mendorong sisi konsumsi investasi maupun ekspor," tegas Sri Mulyani saat rapat di DPR.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00