Kebijakan Energi Jepang, Buka Peluang Ekspor Indonesia

Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Srie Agustina dalam acara  Market Access Workshop "Renewable Energy", yang diselenggarakan perwakilan perdagangan Indonesia di Jepang, Selasa, 14 Juli 2020 (RRI/Magdalena)

KBRN, Jakarta:  Indonesia berpeluang meningkatkan ekspor komoditas palm kernel shell ( cangkang sawit ) dan Wood pelet ke Jepang, seiring dengan kebijakan Negeri Sakura meningkatkan penggunaan energi terbarukan dari biomass untuk memproduksi listrik hingga 2030.

"Jepang merupakan pasar potensial bagi produk biomassa Indonesia berupa palm kernel shell dan wood pellet. Ini tidak lepas dari kebijakan energi Jepang yang menargetkan 25-35 persen listrik yang dihasilkan tahun 2030, akan berasal dari energi terbarukan," kata Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Srie Agustina dalam acara  Market Access Workshop 'Renewable Energy', yang diselenggarakan perwakilan perdagangan Indonesia di Jepang, Selasa ( 14/7/2020).

Dalam bauran kebijakan energi listriknya, lanjut Srie, Jepang menargetkan 1.065 Terra Watt Hour ( Twh) di tahun 2030, dimana sekira 3,7-4,6 persennya berasal dari energi biomass.

Menurut data Kemendag, selama tahun 2015 hingga 2019, ekspor cangkang sawit Indonesia ke Jepang meningkat rata-rata 49 persen per tahun. 

Jepang sendiri pada tahun 2019 telah mengimpor  2.5 juta metrik ton cangkang sawit, yang 85 persennya berasal dari Indonesia.

"Indonesia harus mampu mempertahankan pasar eskpor cangkang sawit ke Jepang agar tidak digeser oleh negara lain," kata Srie.

Apalagi saat ini Indonesia sedang berupaya menggenjot ekspor, guna menopang pertumbuhan ekonomi domestik di tahun 2020, yang mengalami perlambatan akibat wabah Covid-19.

Secara umum, perdagangan Indonesia-Jepang dari Januari hingga Mei 2020 mengalami penurunan sebesar 16.38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Data BPS menunjukkan ekspor Indonesia ke Jepang sepanjang Januari-Mei 2020 sebesar 5.7 miliar dollar AS, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 6.7 miliar dollar AS.

Begitu pula dengan impor Indonesia dari Jepang, turun dari 6.5 miliar dollar menjadi 5.3 miliar dollar AS.

Namun dalam perdagangan dengan Jepang,  walaupun turun, Indonesia masih membukukan surplus 345 juta dollar AS.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00