Meski Pandemi, Asuransi Syariah Masih Berpeluang Tumbuh

Wakil Presiden Republik Indonesia KH Maruf Amin, menyebutkan bahwa asuransi syariah perlu inovasi (Dok. Istimewa/Setwapres RI)

KBRN, Jakarta: Ekonomi dan keuangan syariah menjadi bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi konvensional dalam negeri, yang turut ditopang dengan keberadaan asuransi syariah.

Meski, perkembangan asuransi syariah saat ini belum menunjukkan tren positif.

Wakil Presiden RI, Ma’ruf Amin, menyebutkan, market share keuangan keuangan syariah di Indonesia masih dibawah 10 persen.

“Bahwa berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Maret 2020, market share keuangan syariah di Indonesia, termasuk perbankan dan asuransi, baru mencapai 8,98% dari total aset keuangan Indonesia. Adapun porsi untuk Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) termasuk asuransi syariah hanya sebesar 4,34%,” ungkap Wapres dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) dan Rapat Luar Biasa Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) secara daring, Selasa (30/6/2020).

Wapres menambahkan, berdasarkan hasil survei Bank Indonesia (BI) di 2019, tingkat literasi ekonomi syariah di Indonesia baru mencapai 16,3% dari skala 100%.

Wapres dalam RAT dan Rapat Luar Biasa Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) secara daring (Dok. Istimewa/Setwapres RI)

“Disamping itu, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK khusus untuk asuransi syariah mencatat tingkat literasi asuransi syariah baru sebesar 2,51% dan inklusi asuransi syariah sebesar 1,92%,” paparnya.

Dikatakan Wapres pihaknya optimis asuransi syariah dalam negeri masih memiliki peluang besar untuk dapat tumbuh.

“Hal ini mengindikasikan bahwa masih terbuka peluang sangat besar untuk meningkatkan pertumbuhan asuransi syariah di Indonesia,” ucap Wapres.

Lebih lanjut Wapres menambahkan sejumlah langkah dinilai penting dijalankan oleh industri asuransi syariah, dalam menyikapi penurunan kondisi ekonomi global akibat COVID-19.

“Pertama, industri asuransi syariah harus lebih banyak meningkatkan inovasi produk asuransi syariah. Kedua, eksposur industri asuransi syariah perlu terus ditingkatkan untuk meningkatkan awareness terhadap produk-produk dan industri asuransi syariah. Ketiga, industri asuransi Syariah harus lebih memperhatikan aspek tata kelola usaha yang baik atau Good Corporate Governance (GCG),” terangnya lagi.

Sementara, terkait pengembangan ekonomi dan keuangan syariah kini diperkuat dengan penerbitan Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2020 tentang Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS).

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00