Pandemi COVID-19 Komoditas Pangan Indonesia Melejit di Mesir

KBRN, Kairo : Mesir merupakan salah satu mitra dagang non-tradisional bagi Indonesia, mendominasi pangsa pasar Mesir sebesar 1,45 persen dan beberapa produk komoditas pangan Indonesia menjadi primadona di peringkat pertama. Dalam neraca perdagangan Mesir dengan Indonesia, pada periode Januari-Maret 2020, Indonesia surplus sebesar USD 238,42 juta (Rp. 3,50 triliun).

“Beberapa komoditas pangan Indonesia ke Mesir pada periode Januari-Maret 2020, yang berkontribusi pada peningkatan ekspor antara lain produk biji kopi, saus dan olahannya, minyak sawit dan turunannya, lemak nabati, kacang kacangan, kelapa, kelapa parut, bubuk kakao, kakao, mentega dan minyak kakao,” ungkap Duta Besar RI, Helmy Fauzy, dalam keterangan resmi, Kamis (4/6/2020).

Dubes Helmy menerangkan, peningkatan nilai ekspor ini dipengaruhi oleh beberapa hal penting.

“Diantaranya, adanya pembebasan bea masuk seperti produk kopi dan minyak sawit dan turunannya. Dua produk ini mendominasi nilai ekspor Indonesia ke Mesir diatas 58,23 persen, besarnya permintaan buyer Mesir utamanya produk produk bahan baku industri meski bea masuk diatas 5-10 persen. Terdapat, permintaan yang tinggi untuk produk lemak nabati dan minyak goreng (palm olein) dikarenakan produk Indonesia harganya lebih terjangkau dibanding dengan produk sejenis dari negara-negara pesaing,” papar Helmy.

Duta Besar RI, Helmy Fauzy mengungkapkan, kapasitas produksi Indonesia masih memungkinkan untuk ekspor ke Mesir meskipun pandemi global COVID-19 masih berlangsung.

“Kopi Indonesia juga memberi kontribusi pada peningkatan ekspor ke Mesir sebesar USD 17,48 juta (Rp. 257 miliar ) atau naik 26,07 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019 sebesar USD 13,86 juta (Rp. 204 miliar),” ucapnya.

Dubes Helmy menyebut, saat ini restoran, hotel, dan kedai kopi di Mesir tutup di tengah wabah COVID-19, namun ekspor kopi robusta tetap masih berjalan.

“Penutupan tempat umum ini membuat para pedagang dan distributor kopi harus beralih menjual produk kopi secara daring atau melalui sistem pesan antar ke rumah,” imbuh Helmy.

Sementara, produk makanan olahan Indonesia juga memiliki prospek di pasar Mesir, yaitu seperti biskuit, wafer, dan penyedap. Kekuatan ekspor Indonesia di komoditi ini cukup besar. Meski,  produk biskuit impor dikenakan bea masuk 60 persen plus PPN sebesar 14 persen.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00