Jangan Ojol Melulu, Taksi Online : Emang Enak Cicil Mobil Rp 5 Juta Tiap Bulan?

KBRN, Jakarta : Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) sudah mengeluarkan keputusan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak pekan lalu, dan mulai hari ini mulai diberlakukan untuk wilayah DKI Jakarta. 

Melempar sedikit pandangan ke belakang, sebelum lahir kebijakan PSBB, sudah keluar lebih dulu tiga kebijakan awal, yaitu Work From Home (WFH), Belajar dari Rumah, serta disambung dengan social distancing dimana masyarakat diimbau menghindari kerumunan. 

Ketika diberlakukannya tiga kebijakan awal sebelum PSBB tersebut, dampak terbesar nampak sekali pada pekerja informal termasuk pengemudi ojek online (ojol). Bahkan Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) sampai bekerjasama dengan 1.000 warung tegal yang tergabung dalam Asosiasi Warteg Jabodetabek agar masing-masing warung menyiapkan 100 piring nasi rames bagi para pekerja informal, khususnya driver ojol.

Ojol sendiri merupakan bagian dari moda transportasi online. Apakah hanya ojek online? Tentu tidak, karena ada pula taksi online. Lantas apakah pengemudi taksi online tidak menderita seperti driver ojol sehingga tidak butuh atau mungkin tidak usah difasilitasi bantuan sosial? RRI sudah mendapatkan jawabannya.

HNS (inisial asli) sudah bergabung dengan salah satu perusahaan transportasi online sebagai driver taksi online. Untuk bisa mengais rejeki di jalanan sebagai sopir online, ia menyewa mobil ke seseorang dengan bayaran harian, tanpa menyebutkan nominalnya. 

Selama darurat bencana nasional Covid-19 ini, HNS mengeluhkan pendapatan memang menurun jauh dibandingkan sebelumnya, kala wabah belum menyerang Indonesia, khususnya Ibu Kota Jakarta.

"Sewa kemarin, satu hari penuh saya hanya dapat lima penumpang," ujar HNS kepada RRI, Selasa (7/4/2020).

Jarak tempuh dari lima penumpang itu juga masing-masing berbeda-beda, ada yang jauh dan dekat. Oleh sebab itu, pengaruhnya langsung terasa di uang tunai yang diterimanya. Pendapatan dalam sehari sudah tidak mampu menutupi, karena habis bayar sewa mobil sampai isi bensin (BBM). Bukan tidak mencukupi lagi, kata dia, sering juga tekor alias nombok.

"Jadi beda dengan hari biasa. Sulit banget ini," ucapnya menambahkan.

Satu lagi, setoran ke perusahaan aplikasi juga harus terus terpenuhi. Besarannya adalah 20 persen dari pendapatan selama satu hari operasional pengemudi online bersangkutan. Jadi secara logika, benar apabila pengemudi mengaku bisa tekor alias nombok.

Sebelumnya, kami juga bertemu pengemudi taksi online lain MNG (inisial asli). Dia adalah mitra yang menerima fasilitas cicil kendaraan via perusahaan daring. Sepekan sekali, ia harus menyetorkan Rp 1.250.000 sebagai cicilan kendaraan dengan jangka waktu antara 5 sampai 6 tahun.

Sebelum wabah Covid-19 menerpa Indonesia, penghasilannya lumayan. Menurut MNG, dalam satu hari ia bisa mendapatkan 12 sampai 15 penumpang, dengan jarak bervariasi (jauh dan dekat). Selain itu, ia juga mendapat fasilitas dengan kode 'diamond' yang memiliki nilai rupiah sesuai tingkatan jumlah penumpang yang didapatkan.

"Itu kelipatan, diamond pertama 10 penumpang, begitu seterusnya, naik kelipatan lima ke atas. Bisa dapat Rp 100 sampai 200 ribu dari setiap tingkatan diamond," kata MNG kepada RRI, Minggu (5/4/2020).

Selain itu, masih ada lagi bonus trip yang menurutnya bisa didapatkan apabila sudah mencapai 10 penumpang. Dan semua fasilitas bonus itu sangat membantu mendongkrak penghasilan atau semisal dapat menutupi biaya operasional seperti makan, minum, dan uang bensin selama satu hari penuh beroperasi mengais rejeki di jalanan.

"Tapi sekarang, saat wabah Corona begini, asli sulit sekali. Dari pagi keluar hingga malam ini, bapak adalah penumpang kedua saya," imbuhnya.

Cicilan seorang pengemudi taksi online besar sekali. Dari setoran ke perusahaan untuk cicilan mobil sekali dalam sepekan, biaya operasional sehari-hari, serta jatah 20 persen untuk perusahaan dari total pendapatan kerja dalam satu hari, semua harus terpenuhi.

Tapi MNG coba berpikir positif saja. Ia mengaku mengerti posisi perusahaan saat ini, karena harus terus membayar tagihan cicilan kendaraan yang digunakannya kepada pihak leasing. Perusahaan finance tidak memberi keringanan kredit kepada perusahaan, tentunya driver juga harus tetap membayar.

"Ya saya mengerti posisi perusahaan. Jadi sekarang tinggal bagaimana perjuangan di jalanan saja. Harus kuat dan sabar, semua juga kesulitan," ujarnya.

Dua hari sebelumnya, sekitar Jumat, 3 April 2020, kami sempat mewawancarai pengemudi lainnya yang cukup frontal mengenai nasib mereka di tengah darurat bencana nasional Covid-19.

TRY (inisial asli) kelihatan agak kesal dengan keadaan yang menimpa mereka saat ini. Setoran harus terpenuhi setiap hari, 20 persen jatah perusahaan harus dibayarkan, kemudian ia masih ada cicilan mobil sebesar Rp 5 jutaan setiap bulan, sehingga sepi penumpang membuatnya cukup terbawa suasana.

"Ini saya mata sudah merah, tidak tidur dari subuh sampai malam begini, baru dapat dua penumpang. Kalau bapak tidak pesan, artinya saya hanya satu sewa (penumpang) dapatnya. Bawa sial ini virus (Corona)," kata TRY kepada RRI agak menggerutu.

Dirinya pun sempat mengutarakan pendapatnya mengenai kebijakan social distancing serta work from home yang menggerus penumpang setianya. Belum ada program maupun sistem baru yang bisa meringankan kesulitannya bersama rekan-rekan pengemudia taksi online lainnya. Terlebih lagi, kata dia, masih ada stigma bahwa driver taksi online itu eksklusif dan tidak semenderita pengemudi ojek online (ojol).

Semua pihak saat ini bicara bagaimana menyelamatkan semua driver ojol, padahal derita terbesar saat ini sebenarnya sama saja. Baik ojol maupun taksi online, semua driver-nya mengalami penurunan pendapatan sangat jauh dari biasanya.

"Kasarnya begini, cicilan sepeda motor setiap bulan paling gede berapa? Rp400, 500, 600 ribu? Segitu kan? Sedangkan cicilan mobil fix Rp 5 juta lebih tiap bulan. Emang enak bayar Rp 5 juta setiap bulan saat keadaan virus-virus begini? Jadi stop bicara ojol melulu, ini mau ojol atau taksi online sama keadaannya, sama-sama menderita" tuturnya semakin terbawa perasaan.

Seperti diberitakan sehari sebelumnya, komunitas ojek online (ojol) nasional Garda Indonesia berharap pemerintah memberi kompensasi kepada pengemudi ojol atas Pedoman pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang sudah ditetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pekan lalu sebagai penanggulangan wabah Corona Virus Disease 2019 atau disingkat COVID-19.

Dalam poin PSBB itu diketahui pemerintah melarang pengemudi ojol mengangkut orang, kecuali barang.

Menurut Ketua Presidium Garda Indonesia Igun Wicaksono kompensasi yang dinilai sesuai yaitu berupa bantuan langsung tunai Rp100 ribu per hari. Dikatakan kompensasi tersebut 50 persen dari penghasilan normal harian pengemudi selama ini.

"Nilai besaran BLT yang kami harapkan Rp100 ribu per hari per driver," kata Igun melalui pesan singkat seperti dilansir CNN, Senin (6/4).

Igun juga meminta kepada seluruh perusahaan ojol menonaktifkan fitur penumpang dan terus lakukan sosialisasi aplikasi layanan jasa pesan antar makanan dan barang.

"Ini kewajiban dari aplikator sebagai penyedia aplikasi agar permintaan order makanan maupun pengiriman barang dapat meningkat sebagai sumber penghasilan mitra ojol agar terus dapat mencari nafkah dan menjaga penghasilan driver ojol agar tidak terus turun drastis akibat dari aturan PSBB," ungkap dia.

Aturan mengenai pedoman PSBB ini terdapat dalam pasal 15 Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 9 Tahun 2020. Aturan terbut dalam rangka percepatan penanggulangan virus corona.

Dalam pedoman itu dijelaskan bagian perusahaan komersial dan swasta bahwa ojek online tidak boleh mengangkut penumpang.

"Layanan ekspedisi barang, termasuk sarana angkutan roda dua berbasis aplikasi dengan batasan hanya untuk mengangkut barang dan tidak untuk penumpang," bunyi pedoman yang ditandatangani oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, dikutip Minggu (5/4).

Selain ojek online, pemerintah juga membatasi sekolah dan tempat kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Kemudian, kegiatan sosial dan budaya dan moda transportasi. (Foto: Miechell-RRI)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00