Penguatan Rupiah Masih Ada Risiko Pembalikan Arah

KBRN, Jakarta : Mata uang rupiah diprediksi menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia di awal tahun ini, menyusul pergerakan nilai tumar rupiah yang terus mengalami penguatan.

Penguatan nilai tukar rupiah ini, di satu sisi merupakan sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Tapi pergerakan nilai tukar rupiah, masih berpotensi terkoreksi, jika terjadi hal tak terduga dalam lingkup perekonomian global, yang situasinya masih sulit diprediksi.

"Kita memang sudah memperkirakan rupiah akan cenderung stabil menguat, tapi kita tidak memperkirakan akan menguat secepat ini. Sekarang posisi rupiah ada di kisaran 13.600 rupiah per dollar, itu terlalu cepat dan terlalu kuat. Jadi kami memperkirakan ada risiko koreksi ke depannya," ujar Ekonom CORE Indonesia Piter Abdullah, Senin (20/1/2020).

Piter mengatakan, risiko terkoreksinya rupiah, lebih karena pengaruh kondisi global yang sudah mulai kondusif, tapi masih dibayangi ketidakpastian. Kesepakatan dagang antara AS dan Cina, misalnya, belum sepenuhnya mereda karena masih dalam fase pertama.

" Situasi itu sebenarnya hanya mencegah agar dampak perang dagang tidak semakin dalam. Karena tidak ada penurunan tarif dari sengketa dagang itu, tapi malah diberlakukan tarif-tarif baru," jelas Piter.

Artinya masih ada gejolak di tingkat global yang dapat berimbas pada harga komoditas, yang pada akhirnya akan mempengaruhi kondisi ekonomi domestik, termasuk pada stabilitas nilai tukar rupiah.

"Pergerakan rupiah saat ini masih sangat bergantung pada aliran masuk modal asing, yang sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal. Jadi, yang harus dipersiapkan upaya untuk mencegah jika terjadi pembalikan, aliran modal asing keluar," pungkas Piter.

Sementara itu, dalam penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah kembali menguat 6 poin atau 0,04 persen di level Rp 13.639 per dollar AS.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00