Harga Bahan Pokok Alami Lonjakan, Pengamat : Bali Butuh Zoning Produksi Pertanian

KBRN, Denpasar : Harga sejumlah bahan pokok di Bali terpantau mengalami lonjakan. Kondisi ini ditengarai akibat musim penghujan. Pengamat pertanian Universitas Dwijendra, Dr. Gede Sedana menilai, kenaikan harga bahan pokok dipicu sejumlah hal, diantaranya adalah peralihan musim, dan ketidakseimbangan antara permintaan dengan pasokan. 

Ketimpangan supply dan demand itu dikatakan bersifat musiman. Permintaan dipastikan meningkat, ketika memasuki hari besar keagamaan seperti Galungan, dan Idul Fitri. Oleh karenanya, diperlukan langkah nyata dari pemerintah dalam menyiasati kondisi ini. Salah satunya dapat dilakukan dengan penetapan zoning (pemintakatan) produksi. 

"Sebenarnya kan ada solusinya. Misalnya yang pertama dibikin zoning produksi. Jadi ada sentra-sentra produksi. Misal produksi cabai. Ini kan harga cabai naik turun, nanti bawang. Harus disiapkan zoning di Bali, dimana sentra-sentranya," katanya kepada RRI di Denpasar, Sabtu (18/1/2020). 

Dari sisi petani, strategi yang dapat diambil adalah sistem penanaman yang menyesuaikan musim. Selain itu, juga diperlukan prediksi permintaan. Prediksi permintaan diyakini dapat menyeimbangkan antara hasil pertanian dengan keperluan masyarakat. 

"Karena dikalender kan sudah jelas kita tahu kapan ada hari raya besar yang ada permintaan produk tinggi. Sehingga dalam satu tahun itu sudah ada prediksi, dimana kira-kira permintaan akan tinggi. Kalau kita sudah bisa memprediksi itu, maka kita akan bisa melakukan penanaman empat bulan sebelumnya," ungkap Sedana yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Dwijendra.

Sedangkan untuk antisipasi gagal panen dimusim penghujan, Sedana menyampaikan, petani harus memperhatikan drainase. Tidak sebatas itu, diperlukan penyemprotan agar produk pertanian yang nanti dihasilkan berkualitas baik

"Salah satu yang bisa dilakukan penyemprotan, kalau sekarang dengan organik yang dengan biopestisida. Jadi dengan biopestisida itu akan tetap aman, kemudian teknologinya yang sederhana itu adalah membuat drainase yang bagus, sehingga tidak ada air yang menggenang," paparnya. 

Satu lagi yang tak kalah penting dalam meningkatkan mutu dan kuantitas hasil pertanian adalah dengan rekayasa teknologi. Sedana mengakui, sudah banyak petani Bali yang menggunakan teknologi untuk menunjang kualitas dan jumlah produk pangan. 

Hanya saja, pemanfaatan teknologi itu baru dalam skala kecil. Alasannya, biaya yang mahal menjadi kendala petani menggunakan bantuan teknologi secara menyeluruh. 

"Sebenarnya banyak yang melakukan (rekayasa teknologi) tetapi skalanya kecil. Misalnya petani punya lahan 50 are, tetapi yang baru diupayakan teknologinya baru 10 are. Karena teknologi kan mahal. Selain itu, petani kan juga melakukan diversifikasi usaha. Tidak hanya satu jenis tanaman. Sehingga rekayasa teknologinya hanya untuk beberapa jenis tanaman saja," pungkas Sedana.  (Foto: Isimewa).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00