Derita Pengrajin Kopiah Resam, Samsudin: Cari Bahan Saja Susah

KBRN, Sungailiat : Rusaknya 200 ribu hektar hutan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membawa pengaruh besar terhadap pengrajin Sungkok Resam atau Kopiah Resam, kerajinan khas masyarakat Bangka Belitung turun-temurun.

Seperti yang disampaikan Samsudin,seorang pengrajin dan penjual Sungkok Resam asal Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat kepada RRI, Jum'at (17/1/2020).

"Sangat kesulitan bahan sekarang ini,hutan dimana-mana gundul,sawit skala besar banyak,akibatnya daun resam yang pengrajin butuhkan sulit didapat," kata Samsudin.

Saat ditanya bagaimana Ia dan pengrajin lainnya mendapatkan daun resam untuk dijadikan sungkok resam,Samsudin mengatakan harus mencari jauh masuk ke dalam hutan yang masih bagus.

"Paling kita cari hutan yang masih agak bagus,harapannya bisa menemuKan batang resam.Kadang dapat terkadang pun tidak dapat apa-apa walupun sudah mencari berhari-hari," ujarnya.

Susahnya memperoleh batang atau daun resam tersebut membuat produktifitas para pengrajin Sungkok Resam menurun,bahkan ada yang sampai gulung tikar

"Paling Saya bisa produksi 1 buah dalam seminggu untuk yang berkualitas halus,tapi untuk yang agak kasar,kualitas sedang bisalah 2 atau 3 kopiah yang bisa dibuat.Karena sekarang ini benar-benar susah bahan,mau apa lagi," tandas pria paruh baya ini.

Samsudin berharap ke depan hutan sekitar tempatnya kembali hijau sedia kala lewat berbagai upaya penghijauan yang dilakukan pemerintah daerah bersama masyarakat.

"Moga kembali seperti dulu,hutan hijau kami pun bisa tenang merajut kopiah resam,dapur bisa ngepul.Kalau keadaan seperti ini terus berlangsung bisa-bisa hilang kopiah khas kita gara-gara tak ada yang mau membuat," pungkas Samsudin.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00