Atasi Defisit, SKK Migas Dukung Pemerintah Kurangi Impor Minyak

KBRN, Jakarta: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menanggapi rencana Kementerian ESDM yang akan memangkas jatah impor minyak Pertamina sebanyak 30 juta barel di tahun ini.

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto mengatakan pihaknya mendukung upaya pemerintah untuk mengurangi impor crude atau minyak mentah untuk memperbaiki neraca perdagangan minyak dan gas yang masih defisit.

"Itu dalam rangka upaya kita bagaimana mengatasi neraca perdagangan. Impor nanti yang dikurangi impor BBM atau impor crude. Kalau impor crude, tentu saja kita mesti mengoptimalkan produksi dalam negeri," kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto di Kantor SKK Migas, Jakarta Rabu (15/1/2020).

Dwi menambahkan, SKK Migas akan mendorong Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk menjual minyak mentah mereka ke Pertamina. 

"Kalau SKK akan mendorong KKKS bisa menjual ke Pertamina, sehingga bisa mengurangi impor," ujar Dwi.

Menurut Dwi, upaya pemerintah menekan impor migas dan membeli dari KKKS di dalam negeri akan memiliki dampak besar. Namun perlu juga ditambah dengan optimalisasi kilang, sehingga impor akan berkurang. Selain itu, program biodiesel (B30) yang saat ini sudah berjalan juga bisa membantu mengurangi impor minyak.

"Tinggal bagaimana produksi dalam negeri Pertamina dan KKKS mengenai price (harga) dan segala macam," imbuhnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan migas pada tahun 2019 sebesar 9,34 miliar USD atau setara dengan Rp 130,8 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.000/USD. Angka ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 12,69 miliar USD atau setara dengan Rp 177 triliun. Perbaikan defisit neraca migas ini diakibatkan oleh penurunan impor maupun ekspor migas di tahun 2019.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar