Hentikan Impor, Pemerintah Akan Beri Ruang Investasi Untuk Petrokimia

KBRN, Cilegon : Pemerintah akan berupaya untuk memberi ruang investasi penanaman modal pada sektor petrokimia, guna menghentikan impor petrokimia. Menurut Presiden Joko Widodo, jumlah impor bahan kimia masih jauh lebih besar bila dibandingkan dengan nilai ekspor-nya.

Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik baru Polyethylene milik PT Chandra Asri di Cilegon, Banten pada hari ini. Dalam peresmian itu, Presiden mengemukakan, bahwa sala satu penyebab Indonesia masih terkendala dalam Defisit Neraca Transaksi Berjalan karena bahan baku untuk produksi yang masih harus impor, termasuk diantaranya petrokimia. Untuk itu, Presiden mengatakan, pemerintah akan berupaya untuk memberi ruang untuk investasi penanaman modal sektor petrokimia, guna menghentikan impor petrokimia. Menurut Presiden Joko Widodo, jumlah impor bahan kimia masih jauh lebih besar bila dibandingkan dengan nilai ekspor-nya.   

"Kita berharap, karena impor kita di petorkimia masih besar, investasi di penanaman modal harus diberi ruang. Agar nantinya impor petrokimia bisa kita stop. dan kita justru ekspor. Feeling saya, ini kita dalam waktu 4 sampai 5 tahun lagi, kita ngga impor bahan-bahan petrokimia," kata Presiden di lokasi Pabrik Polyethylene Chandra Adri di Cilegon. 

Presiden ingin ke depan, Indonesia tidak lagi impor, tapi dapat juga memproduksi bahan baku petrokimia sejenis polyethylene atau plastik, untuk produksi segala hal yang berkaitan dengan plastik. 

"Kalau bisa buat kenapa harus impor. Ini satu-satu kita selesaikan. Ekspor bahan kimia senilai Rp124 triliun, sementara impor-nya senilai Rp317 triliun. Kita harap, investasi Chandra Asri dapat diselesaikan," tuturnya.  

Untuk diketahui, peningkatan kapasitas petrokimia dalam negeri saat ini masih belum dapat mengejar pesatnya pertumbuhan konsumsi di indonesia. Selain itu, pesatnya pertumbuhan Indonesia juga menyebabkan naiknya kebutuhan akan bahan baku seperti poyethylene. Namun sampai saat ini industri petrokimia di Indonesia masih harus mengimpor sekitar 40-50 persen bahan baku dari luar negeri. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00