Menko Perekonomian: Pemerintah Masih Kaji BBM Bersubsidi 2023

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Dokumentasi Kemenko Perekonomian)

KBRN, Jakarta: Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah masih mengkaji tentang kebijakan BBM bersubsidi di tahun depan. 

“Pemerintah sekarang melakukan review terkait kebutuhan akibat kenaikan harga BBM, baik segi volume dan bagaimana kajian selanjutnya. Dari kajian tersebut, pemerintah memperhitungkan potensi kenaikan inflasi dan efeknya pada Produk Domestik Bruto (PDB) ke depan,”  kata Menko Airlangga menjawab pertanyaan soal kepastian kenaikan harga BBM bersubsidi di tahun 2023.

Pertanyaan itu mencuat karena tingginya harga minyak mentah di pasar dunia, di level 90 dollar per barel. Dan konsumsi BBM bersubsidi yang semakin meningkat.

Selain itu, subsidi energi yang tahun ini (2022) dianggarkan sebesar Rp 502 triliun. Namun pada tahun 2023 dipangkas menjadi hanya Rp 336 triliun.

“Apabila ada penyesuaian harga, kita mengkalkulasi juga kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan kompensasi dalam bentuk program. Tentu programnya yang sedang berjalan, seperti perlindungan sosial yang kita lakukan dalam penanganan pandemi,” ucap Menko Airlangga.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan kementeriannya berupaya untuk mengurangi beban subsidi energi. Seperti menjaga lifting minyak bumi di level 680 ribu barel/hari, lifting migas di level 1.050.000 barel/hari.

“Memang ada kecenderungan produksi minyak bumi yang menurun, karena sumur produksi yang sudah tua. Kita sekarang mulai melakukan eksplorasi baru lagi, tapi untuk menghasilkan akan butuh waktu yang panjang,” kata Arifin Tasrif.

Eksplorasi antara lain dilakukan di Jawa Timur, Papua, serta Sumatera. Saat ini masih dibutuhkan infrastruktur energi untuk memudahkan distribusi dari wilayah yang surplus energi ke wilayah yang membutuhkan energi.  

“Kita juga melakukan perbaikan data-data, untuk mengetahui mana konsumen yang berhak menerima subsidi energi. Selain itu juga mengkaji mekanisme pembatasan konsumsi energi bersubsidi,” ujar Arifin.

Jangka panjang, Kementerian ESDM akan mewujudkan konversi energi, dari energi fosil ke energi listrik agar beban subsidi berkurang.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar